<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100</id><updated>2011-04-21T19:40:10.101-07:00</updated><category term='tentang wanita'/><category term='hikmah'/><title type='text'>sekedar berbagi cerita</title><subtitle type='html'>sekedar tentang..
apa yang ku alami
apa yang ku tahu
apa yang ku pikirkan
apa yang ingin kulakukan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-4537296061594781261</id><published>2008-09-12T20:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-12T20:56:37.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><title type='text'>Angon wedhus di Rusia</title><content type='html'>Namanya nasib, kita tidak pernah bisa menyangka sebelumnya. Nasib termasuk perkara yang ghaib, yang kita diwajibkan percaya dan mengimaninya. Bukankah percaya pada yang ghaib (percaya terhadap takdir Allah) termasuk dalam rukun iman? Dan nasib temanku, si Naufal, membuatku semakin yakin bahwa setiap manusia telah memiliki garis takdirnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Naufal, adalah teman sekelasku saat SMA dulu. Orangnya biasa-biasa saja. Dari segi kecerdasan biasa-biasa saja. Dari segi fisik orangnya standar-standar saja bahkan cenderung bertubuh kecil. Dari segi pergaulan dia bukan tipe orang yang pilih-pilih, dia bisa akrab dengan semua orang. Singkatnya dari profilnya dulu, dia ini gak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndayani&lt;/span&gt; (istilah orang Jawa untuk mengistilahkan kekurangpercayaan kita terhadap kemampuan seseorang) dan mungkin juga kurang diperhitungkan bakal meraih sukses kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa sangka, di antara teman-teman sekelasku bahkan mungkin satu sekolah, dia termasuk orang layak diberi predikat sukses. Naufal saat ini bekerja di sebuah perusahaan minyak asing, kalau tidak salah dari Korea, dan saat ini dia ditugaskan di sebuah negara yang mungkin dulu dia tidak pernah bayangkan untuk mengunjunginya sekalipun. Dia sekarang bertugas di Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja di perusahaan minyak adalah sebuah anugerah. Paling apes pendapatannya kalau pendidikannya sekelas SMA, yang mungkin pekerjaannya sekelas operator di lapangan, seorang pekerja di sana bisa membawa pulang paling tidak 5-10 juta per bulannya. Belum lagi tunjangan-tunjangan yang diperoleh. Wah wah wah... seorang lulusan S1 yang bekerja di perusahaan swasta nasional saja belum tentu mendapatkan pendapatan segedhe itu kalau masa kerjanya masih seputar 5 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Naufal, seseorang yang dulu pernah memilih untuk tidak menempuh kuliah karena kesulitan biaya, walaupun sempat lulus UMPTN, membuktikan bahwa ketika kita selalu optimis memandang masa depan, maka kesempatan baik itu pun akan datang menghampiri. Setelah sempat bekerja serabutan, ia kemudian bertemu seseorang yang menjadi titik balik kehidupannya. Karena kemampuannya berbahasa inggris dan sedikit komputer, yang walaupun menurut kemampuannya sangat biasa-biasa saja dan cenderung di bawah standar, orang itu tertarik untuk mempekerjakannya di tempatnya. Dari sini lah sang dewi fortuna semakin akrab dengan si Naufal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aku jadi ingat dengan dialog dengannya sesaat ketika dinyatakan lulus SMA. Saat itu hampir semua teman-temanku, termasuk aku, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri mengikuti UMPTN, ujian  masuk perguruan tinggi. Naufal, termasuk orang yang adhem ayem saja. Tentu saja ini mengundang keherananku, yang akhirnya tergoda untuk bertanya pada Naufal, "Fal, setelah ini kamu mau ngapain?". Dan Naufal menjawab dengan tersenyum, "Yah, mungkin aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angon wedhus ae&lt;/span&gt; (menggembala kambing saja) Yan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nasib pun membuktikan, sekarang dia ternyata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angon wedhus&lt;/span&gt; di Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Good luck pren!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-4537296061594781261?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/4537296061594781261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=4537296061594781261&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/4537296061594781261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/4537296061594781261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2008/09/angon-wedhus-di-rusia.html' title='Angon wedhus di Rusia'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-8915413803970391249</id><published>2008-08-28T19:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T20:15:00.879-07:00</updated><title type='text'>Buat kalian, apa pun kami korbankan</title><content type='html'>Namanya juga orang tua, apa pun dikorbankan demi sang anak. Pemahaman itu semakin mendalam ketika aku diberikan tugas dari kantor untuk mendampingi calon mahasiswa IPDN mengikuti tes terakhir yang menentukan kelulusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu sebenarnya sudah lama aku tahu, semenjak masa kanak-kanak dulu. Saat Bapak dan Ibuku memarahiku karena jengkel terhadap kenakalanku. Pernah satu ketika, karena asyiknya bermain aku lupa harus pulang ke rumah. Karena hari sudah menjelang maghrib, orangtuaku bingung mencariku ke tetangga-tetangga sebelah rumah. Mendatangi rumah teman-temanku. Tidak hanya mereka yang mencari, tapi para tetangga dekat orangtuaku juga ikut kebingungan mencari. Padahal aku bermain di lapangan kosong berpagar tembok yang lumayan tinggi. Di situ aku bermain-main di bawah pohon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keres&lt;/span&gt;. Dan ketika aku pulang ke rumah setelah adzan maghrib selesai berkumandang tanpa rasa bersalah, kontan orangtuaku langsung memarahiku habis-habisan. Waktu itu aku tidak bisa mengerti, mengapa anak kecil seperti aku tidak boleh bermain lama-lama, hanya itu yang ada dalam pikiranku. Dan kini diriku semakin memahami betapa orang tua sangat menyayangi anak-anaknya, darah dagingnya, dan bersedia melakukan apa pun, demi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di pinggiran kota Bandung, tepatnya di Jatinangor Kabupaten Sumedang, sudah tujuh hari tepatnya aku menunaikan tugas yang diberikan kantor. Di sini tidak hanya orang-orang sepertiku yang memiliki maksud yang sama, mendampingi calon mahasiswa IPDN sampai dengan kepastian nama-nama yang berhak menduduki bangku kampus itu muncul. Namun banyak juga para orang tua yang merelakan waktu mereka, demi mendampingi anak-anaknya meraih asa. Di sela waktu senggang bertugas ini, seringkali aku mengobrol dengan mereka. Dengan antusias mereka bercerita tentang anak-anak mereka. Bercerita tentang betapa cerdas dan tekunnya anak-anak mereka, bagaimana perjuangan anak mereka menembus persaingan yang begitu ketat, betapa mereka begitu mengkhawatirkan kondisi anak-anak mereka di dalam sana yang nyaris tidak bisa dihubungi karena mereka tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi apa pun. Orang tua-orang tua itu menceritakan bagaimana mereka mempersiapkan anak-anak mereka jauh-jauh hari sebelumnya. Menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk mendatangkan pelatih fisik khusus persiapan tes kesamaptaan, membayar biaya tes yang tidak sedikit itu, sampai dengan membiayai kehidupan mereka di sini, di Jatinangor ini, yang nyaris tanpa kepastian sampai dengan kapan mereka harus berada di sini. Orang-orang tua ini dengan setia menunggui anak-anak mereka di sini, seakan-akan mereka sendiri lah yang mengikuti tes. Barangkali di saat anak-anak mereka sedang diuji, mereka lah yang merasakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nervous&lt;/span&gt; yang amat sangat, sedangkan di saat yang sama anak-anak mereka saling bercanda di antara mereka. Barangkali juga apabila keinginan anak-anak mereka untuk menembus ketatnya persaingan ini bisa ditebus dengan materi, mereka akan melakukannya juga, bahkan dengan berutang sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan anak, adalah segala-galanya bagi orang tua. Begitu kira-kira dalam benak semua orang tua di muka bumi ini. Aku jadi teringat pada anakku, si mungil, Najwa. Teringat akan langkah-langkah kecilnya saat menjelajah rumah kontrakanku. Teringat tawa renyahnya saat aku menggodanya. Teringat mulutnya yang penuh dengan nasi tim saat ia makan. Rasanya aku tak akan membiarkan apa pun merenggut kebahagiaan darinya. Dengan upaya apa pun aku akan melakukannya demi membuatnya bahagia sampai ia dewasa kelak. Saat tugasku sebagai orang tua telah selesai. Bahkan sampai dengan maut menjemput kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga jadi teringat kepada kedua orang tuaku. Betapa mereka sangat berjasa terhadap apa yang telah kucapai saat ini. Tanpa mereka, aku bukan apa-apa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatinangor, 29 Agustus 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-8915413803970391249?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/8915413803970391249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=8915413803970391249&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/8915413803970391249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/8915413803970391249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2008/08/buat-kalian-apa-pun-kami-korbankan.html' title='Buat kalian, apa pun kami korbankan'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-5652879331951257940</id><published>2007-09-20T23:12:00.000-07:00</published><updated>2007-09-23T20:56:47.452-07:00</updated><title type='text'>Karenamu Aku Cemburu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Perempuan cemburu? Ah, itu sudah biasa &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;? Perempuan mana yang tidak punya feeling cemburuan? Mungkin kalau ada, perlu dipertanyakan status gendernya sebagai manusia dari jenis hawa.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Itu lah yang membuatku tertarik untuk membaca buku yang berjudul "Karenamu Aku Cemburu" yang berisi kumpulan tulisan teman-teman Asma Nadia ini. Asma Nadia, adalah seorang perempuan yang aktif menulis. Karyanya yang sempat ku baca adalah novelnya yang berjudul “Sunyi”. Kedua, karyanya yang bertitel “catatan seorang istri”. Kedua-duanya banyak mengeksplorasi tentang pikiran, perasaan dan tindakan kaum hawa, terutama di tanah air. Membaca kedua karyanya itu, banyak memberikan pemahaman-pemahaman baru bagiku tentang dunia wanita. Dunia Venus yang kerap tidak mudah untuk dimengerti oleh penduduk planet Mars. Setidaknya manfaat yang ku dapatkan adalah lancarnya komunikasi dengan istri. Bukankah salah satu kunci komunikasi yang efektif adalah dengan berempati?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Membaca buku ini, membuatku sedikit geli. Dengan bahasa yang khas perempuan; emosional, melompat-lompat dari fokus pembicaraan dan kadang muncul ungkapan-ungkapan yang tidak penting, kita seperti digiring pada suasana di tengah arisan ibu-ibu PKK. Aku sendiri seperti berada di tengah-tengah riuh rendah suara cewek yang sibuk ngerumpi gosip-gosip artis di acara infotainment, persis saat masih kuliah di psikologi dulu. Dari tulisan-tulisan itu, ada beberapa pengalaman subyektif yang menurutku lucu. Tapi meskipun lucu, ini penting untuk diketahui oleh para suami atau kaum laki-laki yang masih berminat dengan perempuan &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Buku ini menginspirasiku bahwa cemburu bisa datang dari berbagai arah, bahkan dari arah yang tidak kita duga-duga. Seperti pengalaman salah satu rekan Asma Nadia, Azimah Rahayu. Cemburunya pada sang suami justru muncul karena sang mertua. Menurutku ini aneh bin ajaib. Kok bisa-bisanya seorang menantu perempuan cemburu dengan ibu mertuanya yang notabene ibu yang membesarkan sang suami. Dalam pemikiranku wajar-wajar saja jika seorang laki-laki dengan ibunya, sebagai ekspresi penghormatan bagi seseorang yang melahirkan dengan susah payah dan mengasuh dengan tulus. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Namun bagi Azimah Rahayu, kedekatan sang suami dengan ibunya malah menjadi sebuah masalah besar. Masalah ini dipicu saat mereka mudik lebaran di rumah mertuanya. Ketika satu malam sang suami meninggalkannya sendirian di kamar karena diminta untuk memijit-mijit kaki ibunya. Peristiwa ini membuat dirinya merasa tersisihkan oleh ibu mertuanya. Seakan-akan si suami ketika berada di rumah orangtuanya tidak bisa menjadi miliknya seutuhnya. Dia tidak rela berbagi, bahkan dengan mertuanya sendiri. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Pada akhir tulisannya dia mengaku saat ini sudah mulai bisa menetralisir perasaan cemburu yang disadarinya kurang wajar ini. Namun, kita para suami yang dekat dengan ibu-ibu kita rupanya perlu juga memahami kondisi seperti ini. Sebagai antisipasi jika suatu saat gejala ini muncul, kita bisa dengan sabar mendengarkan keluhan istri dan tidak dengan serta merta menyalahkan dirinya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Cemburu juga bisa datang karena hobi sang suami. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; suami yang hobi nonton bola malam-malam, hobi main PS, hobi mancing, ngelayap malam-malam sekedar cari sate kambing, baca buku sampai berjam-jam, berhati-hatilah! Karena kesibukan anda dengan hobi anda yang bisa membuat anda lupa waktu dan lupa dunia bisa membuat istri anda merasa tersisih. Pada gilirannya bisa membuat kita repot karena para istri bisa ngambek tidak mau bicara, tidak mau masak makanan kesukaan kita dan bahkan tidak mau –TIIIIT!- (maaf, sensor), wah bisa berabe &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Macam-macam pintu masuknya cemburu itu, kadang membuat kita para lelaki bisa frustasi. Dari tulisan-tulisan yang dihimpun Asma Nadia ini saya bisa simpulkan pada umumnya cemburu itu muncul karena rasa tidak aman para wanita. Perasaan takut kehilangan adalah alasan utama mengapa wanita bisa cemburu membabi buta. Bahkan bisa berawal dari hal-hal yang sepele dan tidak masuk akal, seperti mimpi (Ya! Semata-mata mimpi!) yang celakanya hampir sebagian besar wanita percaya bahwa mimpi adalah alarm dari intuisinya. Jika wanita sudah merasa tidak aman, maka bunyi sms yang masuk pun bisa memicu cemburu buta, sebuta-butanya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Buku ini ditutup dengan “lembar untuk suami” dari seseorang bernama Agus M. Irkham. Saya kurang tahu mengenai saudara Agus ini, tapi yang jelas ia adalah salah satu orang dalam jaringan penulis Lingkar Pena, seperti halnya Asma Nadia. Dia menyarankan ketika api cemburu sedang berkobar-kobar, hal pertama yang harus dilakukan oleh para suami adalah diam. Tapi bukan hanya diam yang pasif, tapi juga mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kemudian saat suhu cemburu itu mulai mendingin, para suami harus mengajak bicara dengan sejuk. Kita wajib menanyakan, apa gerangan yang membuat sang istri bermuram durja. Tanyakan secara spesifik, apa perilaku kita yang memicu kecemburuannya. Jika memang salah, jangan segan-segan meminta maaf. Setelah itu kemukakan dialog, komunikasi yang baik setiap ada masalah yang mengganjal. Jika dengan bicara susah, kita harus mencari metode lain seperti dengan memintanya menulis dan kita bisa membalasnya dengan tulisan pula. Kenapa tidak? Banyak jalan menuju roma &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Terlepas dari isinya, Asma Nadia mampu meramu buku ini menjadi buku yang sangat informatif tentang apa, mengapa dan bagaimana wanita bisa cemburu. Dia bisa memperhalus kesenjangan antar tulisan dengan menyisipkan puisi-puisi yang ia buat sendiri. Saya salut pada caranya mendedikasikan karyanya untuk kepentingan perempuan. Saya kira ini lah salah satu cara yang elegan agar wanita dihormati, selain sekedar berteriak-teriak tentang persamaan gender. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 6pt; TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Jadi, coba dibaca yuk...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:date month="9" day="21" year="2007" st="on"&gt;21 September 2007&lt;/st1:date&gt;&lt;br /&gt;[&lt;st1:time hour="10" minute="57" st="on"&gt;10:57&lt;/st1:time&gt;] Resensi Buku : Asma Nadia dkk, &lt;em&gt;Karenamu Aku Cemburu&lt;/em&gt;, Depok : PT Lingkarpena Kreativa, 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-5652879331951257940?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/5652879331951257940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=5652879331951257940&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/5652879331951257940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/5652879331951257940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/09/karenamu-aku-cemburu.html' title='Karenamu Aku Cemburu'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-4161194137208232623</id><published>2007-09-07T05:50:00.000-07:00</published><updated>2007-09-07T06:31:01.274-07:00</updated><title type='text'>blue.. oh baby blue..</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sebenarnya aku sudah tahu sebelumnya lewat beberapa buku/artikel tentang baby blue sydrome. Mengalaminya? Ya jelas gak lah. Tepatnya ikut kecipratan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari artikel/buku tentang kehamilan dan pasca persalinan itu aku tahu bahwa sebagian besar wanita akan mengalaminya setelah melalui persalinan. Bukan sindroma secara fisik tapi sebuah gejala emosional yang khas, yaitu perasaan tersingkir, tersisih, cemburu terhadap anak yang baru dilahirkannya. Sebuah perasaan yang muncul karena selama sembilan bulan lebih mendapat perhatian penuh dari suami dan keluarga, namun setelah tugas itu telah dilampaui perhatian serta merta beralih kepada si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pun merasakannya pada sikap istriku, saat minggu-minggu awal sepulang dari rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari rumah sakit, praktis rumah kami menjadi ramai oleh saudara-saudara kami yang ingin menjenguk. Minggu pertama, ibuku memerlukan datang dari Banyuwangi untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;niliki &lt;/span&gt;cucu keempatnya dan buat mengajari kami merawat bayi mungil kami. Minggu kedua kami masih terbantu oleh kedatangan bik sih (bibinya ocha, istriku) yang rela meninggalkan sawahnya selama seminggu. Setelah itu berangsur-angsur rumah kami mulai sepi dan kami harus mulai sendiri melakukan rutinitas baru kami, merawat nana anak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;*  *  *  *  *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Blue..Oh Baby Blue...&lt;br /&gt;Pengalaman baru merawat bayi adalah pengalaman yang luar biasa bagiku, terutama bagi istriku. Setelah biasa diperhatikan selama sembilan bulan, sekarang ganti dia yang harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pay full attention&lt;/span&gt; kepada bayinya. Ibarat tanaman yang biasa disiram setiap hari, kemudian jarang disiram, ditambah harus menghidupi benalu. Mungkin begitu yang dirasakan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku tidak begitu memperhatikan perubahan sikap ocha. Aku kira, (selayaknya) ia pasti bersuka cita atas kehadiran putri yang kami nanti-nantikan ini. Aku kira ia menikmati ketika menyusui bayinya, menggantikan popoknya dan saat memandikannya. Ternyata, kebalikannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, menjelang tidur aku memergokinya melamun sendiri di pojok kamar sambil menyusui anaknya. Tidak seperti biasa, ia tidak menyapa dan mengajakku ngobrol tentang anaknya. Dan aku mengenali sikapnya itu adalah semacam pernyataan protes. Dan biasanya kalau sudah seperti itu, hanya bisa disembuhkan dengan menghampiri, merangkulnya dan menanyakan ada masalah apa.. Cuma masalahnya, karena saat itu ia masih menyusui anaknya hal itu jadi gak bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru keesokan harinya aku bisa mengajaknya ngobrol. Dan seperti pada umumnya perempuan yang tidak pernah secara langsung mengungkapkan masalah, ocha sepertinya minta supaya aku mengerti tanpa harus masalahnya tanpa ia harus mengungkapkan secara gamblang. Waktu itu dia hanya bisa menahan tangis. Dan, oo  oouw.., aku pun tahu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat-saat seperti ini lah terasa manfaatnya kuliah di psikologi. Aku jadi segera paham bahwa ia mengalami baby blue syndrome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mampu mengendalikan emosinya, ia pun bercerita bahwa ia merasakan bahwa aku meskipun dekat tapi terasa jauh. Aku seperti tidak peduli dengannya, dan hanya lebih peduli dengan nana anaknya. Ia merasakan bahwa "makhluk asing" ini lah yang tiba-tiba merebut segalanya darinya. Singkatnya, istriku jealous he he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seorang perempuan yang jealous obatnya cuma satu, dirayu dan diyakinkan dengan dicium, maka rontok lah sang momok bernama blue..oh baby blue itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, para suami yang sedang menantikan kehadiran tangis si kecil dalam rumahnya, bersiaplah.....he he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 7 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-4161194137208232623?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/4161194137208232623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=4161194137208232623&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/4161194137208232623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/4161194137208232623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/09/blue-oh-baby-blue.html' title='blue.. oh baby blue..'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-6685422960309004470</id><published>2007-08-16T18:29:00.000-07:00</published><updated>2007-08-16T19:39:29.967-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang wanita'/><title type='text'>ibu,kasihmu tiada ternilai</title><content type='html'>Alhamdulillah, akhirnya setelah menunggu hampir 42 minggu si adek lahir juga. Lahir Ahad pagi jam 3.10, 12 Agustus 2007 kemarin lewat persalinan normal pula :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ayah, pengalaman ini benar2 memberikan pengalaman yang luar biasa. Bagiku pengalaman ini memberikan sebuah cakrawala baru tentang arti seorang wanita, ibu dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat pagi, 10 Agustus 2007, menjelang shalat shubuh sebelum berangkat senam di kantor, istriku memanggilku, memperlihatkan kalau di celana dalamnya ada bercak bening dan tidak berbau, pasti bukan ompol. Melihat hal itu aku langsung memutuskan untuk tidak mengikuti senam hari itu, istriku ku suruh mandi dan aku langsung menunaikan shalat shubuh. Selesai shalat aku langsung menghubungi ibuku dan meminta saran beliau tentang kondisi istriku. Menurut beliau apa yang dialami istriku masih belum bisa dikatakan tanda-tanda persalinan. Merasa lega, istriku ku ajak jalan2 keliling kompleks perumahan tempat kami mengontrak dan setelah itu aku tetap berangkat ke kantor seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat sore, pk. 17.00, sepulang berjalan2 keliling kompleks, istriku mengeluh kalau perutnya sedikit kejang. Tak lama setelah keluhannya itu, mendadak keluar cairan dari jalan lahirnya kira2 satu cangkir lah. Bukan hanya itu, cairan itu tidak hanya berwarna bening, tapi juga ada segaris darah segar di dalamnya. Tak mau ambil resiko, akhirnya selepas shalat maghrib kami langsung berangkat ke RS Khadijah di daerah Sepanjang. Sesampainya di sana, pihak RS menyatakan bahwa istriku harus opname. Meski belum merasa ada kontraksi yang berarti, oleh dokter kami dilarang pulang, observasi selama 24 jam harus dilakukan karena meningkatnya resiko infeksi pada ibu dan janinnya karena pecah ketuban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selama 24 jam penuh kami menunggu tanpa adanya reaksi, kontraksi rahim istriku. dr. Bambang, dokter kandungan tempat kami selama ini melakukan pemeriksaan kandungan, menyatakan bahwa kalau dalam 24 jam ini tidak ada reaksi, mau tak mau, suka tidak suka harus segera dilakukan induksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 11 Agustus 2007. 16.00. Waktu itu suara shalawat nabi mengumandang dari masjid sebelah RS. Memang hari itu ada perayaan Isra' Mi'raj. Dan kami pun berharap si adek akan lahir berbarengan dengan momen istimewa ini. Ditambah lagi 1 jam menjelang keputusan akhir, istriku merasakan mules, kontraksi yang mulai teratur, 15 menit sekali. Waktunya sudah dekat. Dokter pun memutuskan menambah waktu evaluasi 6 jam ke depan memberi kesempatan adanya kontraksi normal dari sang ibu. Itu artinya pukul 23.00 kalau kontraksinya tidak membuahkan apa pun, maka dr bambang akan memerintahkan bidan untuk menginduksi istriku. Ya Allah, semoga itu tidak terjadi, begitu harapan kami..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pk. 21.00, bidan menyatakan bahwa istriku masih bukaan 2, masih lama..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pk. 22.00, durasi kontraksi kira2 30 detik per kontraksi dan jaraknya 10 menit sekali. Kami berharap sebentar lagi si adek lahir tanpa harus diinduksi. Istriku agak gentar setelah mendengar cerita bahwa diinduksi itu sakitnya luar biasa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pk. 23.00, dan memang tidak ada penambahan intensitas dan durasi kontraksi. Bidan pun menghubungi dr Bambang, dan diputuskan INDUKSI!. Di saat ini, istriku berbisik padaku kalau ia tidak mau didrip, diiinduksi. Ia mungkin merasakan ketakutan yang amat sangat. Aku pun meminta waktu berpikir 30 menit pada bidan. Untungnya pada saat itu aku tidak sendirian. Ada kakak perempuan istriku dan suaminya yang memberikan dukungan pada kami. Dukungan yang sangat berarti bagi istriku, dan ia pun mengatakan : oke deh,kita coba. Aku tahu ada nada keraguan di sana, tapi setelah mengajak berdoa, keraguan itu agaknya sedikit berkurang. Sedikit gemetar aku menandatangani pernyataan setuju untuk dilakukan tindakan yang (katanya) ditakuti sebagian wanita ini. Ya Allah, berikan lah kekuatan pada istriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pk. 23.30, infus berisi cairan oxitosin pun dipasang oleh bidan. Tetes demi tetes mulai mengalir ke dalam nadi ocha, istriku. 10 menit..belum terasa apa-apa.., 20 menit kami masih bisa tertawa bersama. menit ke 25 oxitosin itu rupanya mulai bekerja. Rasa sakit mulai mendera punggung dan bagian bawah perutnya. Rasa sakit itu rupanya semakin bertambah..bertambah..dan bertambah... Erangan, teriakan istighfar, keringat dingin dan rasa sakit bergantian datang. Dan aku hanya kebagian menggosok-gosok punggungnya yang makin lama makin keras, gosokan itu berubah menjadi pijatan yang kulakukan dengan kekuatan penuh lenganku. Rasa capek jelas ku rasakan, tapi aku merasa betapa tidak adilnya jika dengan rasa capek ini aku harus berhenti. Sedangkan istriku berjuang melawan rasa sakit tiada tara, di ambang batas antara hidup dan matinya.. Aku pun selalu bisikkan kalimat istighfar di telinganya setiap kali ia meneriakkan bahwa ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang cairan itu membawa kemajuan. 30 menit pertama, istriku sudah mencapai bukaan 4 dan berturut 1 bukaan setiap 20-30 menit berikutnya. Namun, rasa takut dan rasa sakit rupanya sudah teraduk-aduk dalam perasaan istriku, hingga bukaan 8 ia seperti sudah tak punya daya. Bidan pun memutuskan menghubungi dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40 menit kami menunggu. Istriku sudah berulangkali mengerang kesakitan, menggigil kedinginan, berulang kali pula ku seka keringat dingin yang mengucur di kepalanya. Baratajaya ke Sepanjang, bukan lah jarak yang pendek. Kebetulan aku sudah tahu data pak dokter bambang itu dari SIMPEG di kantor. Padahal hari ini malam minggu. Jalanan pasti ramai, begitu  pikirku. Dan aku pun hanya bisa berdoa, kuatkan istriku ya Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 12 Agustus, 02.30.&lt;br /&gt;Assalamualaikum.. suara berat terdengar dari luar ruang bersalin. Ah, akhirnya dr Bambang datang juga..Dan setelah melakukan sedikit persiapan, akhirnya fase persalinan aktif pun dimulai. Aku diminta memegang kaki istriku. Kedua kakinya di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;begegeh&lt;/span&gt;-kan, seperti di film-film. Saat kontraksi datang, ia meminta istriku mendorong, dan tek..tek..(bunyinya seperti tahu tek he he...), rupanya pak dokter merobek dengan sengaja jalan lahir istriku, dengan begitu didapatlah bukaan 10 dengan sedikit paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses mengejan dimulai.&lt;br /&gt;Mengejan pertama, ujung kepala berambut itu mulai terlihat. Tapi berhenti sampai di situ, istriku kehabisan nafas.&lt;br /&gt;Mengejan kedua, ada kemajuan, tapi sekali lagi istriku kehabisan nafas.&lt;br /&gt;Mengejan ketiga, kemajuan signifikan, ujung kepala itu terlihat maju kira2 1 cm, tapi masuk lagi. Karena sekali lagi kehabisan nafas.&lt;br /&gt;Mengejan keempat, sama dengan yang ketiga. Di titik ini muncul keraguanku, apakah istriku masih kuat melakukannya lagi?Ku semangati dia dengan membisikkan, sekali lagi sayang.. Kepala anakmu sudah terlihat..&lt;br /&gt;Kelima, benar-benar energi yang luar biasa. Di saat ini lah awal kehidupan itu mulai bekerja. Dorongan istriku menunjukkan hasilnya. Awalnya kepalanya, kemudian bahunya yang terlihat lemas seperti agar-agar, perutnya, kakinya dan terakhir tali pusarnya. Dan di saat tali pusar itu dipotong, terdengar lah suara merdu tangisan bayi yang kami tunggu-tunggu. Alhamdulillah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, benar2 pengorbanan seorang wanita, seorang ibu itu tiada duanya. Melawan rasa sakit pun ia rela, asal sang anak lahir dengan selamat. Sedangkan seringkali kita tak patuh pada beliau. Betapa sakitnya hati beliau, melebihi rasa sakitnya saat melahirkan kita dulu. Benar-benar, kejadian ini semakin membuatku semakin respek pada wanita-wanita di sekitarku; ibuku..dan juga istriku.. Semakin sayang pada kalian berdua..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, 17 Agustus 2007&lt;br /&gt;[9:37 am]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-6685422960309004470?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/6685422960309004470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=6685422960309004470&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/6685422960309004470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/6685422960309004470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/08/ibukasihmu-tiada-ternilai.html' title='ibu,kasihmu tiada ternilai'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-4003048046455290323</id><published>2007-07-23T00:41:00.000-07:00</published><updated>2007-07-23T01:08:16.217-07:00</updated><title type='text'>hati-hati dengan janji</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kunci pertumbuhan karakter adalah &lt;strong&gt;berjanji dan kemudian selalu belajar menepatinya&lt;/strong&gt; (Stephen Covey).&lt;/em&gt; Dan itulah yang terjadi pada diriku saat ini. Kurang hati-hati dalam membuat janji kepada orang lain, sehingga mendapat kesan kurang amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman kantor menawariku untuk menjadi bagian tim pengawas pemain pada kegiatan lomba tujuhbelasan di instansi tempatku bekerja. Tugasnya cukup mudah, yaitu memastikan bahwa peserta yang mengikuti lomba adalah benar-benar seorang pejabat struktural. Artinya peserta adalah orang-orang yang berada di jajaran manajerial di dalam organisasinya. Dan sebagai orang berkecimpung di bidang kepegawaian, tugas tersebut sebenarnya tidak jauh-jauh dari tugas dan tanggung jawab dalam keseharian di kantor. Maka aku pun mengiyakan tawaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodohnya, aku tidak menanyakan bagaimana tugas itu dilaksanakan di lapangan? Berapa lama dan kapan tugas itu dijalankan. Benar-benar suatu keteledoran karena kurang teliti sebelum mengambil keputusan yang bernilai JANJI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menerima jadwal pertandingan beberapa jam sebelum kegiatan itu dilaksanakan. Sebenarnya waktu aku menerima schedule itu aku terkaget-kaget, karena ternyata kegiatan itu dilaksanakan setiap hari dan celakanya sampai malam hari. Padahal awalnya aku mengira kegiatan hanya dilaksanakan sampai menjelang maghrib dan itu pun tidak setiap hari, melainkan hanya pada akhir pekan saja. Tapi aku berusaha tenang, karena teringat penjelasan salah seorang teman bahwa tugasnya bisa sewaktu-waktu digantikan. Dan berangkat lah aku menuju tempat lomba, di wilayah injoko, tepatnya di kompleks dinas pemerintah propinsi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjalankan tugas pertama kali itu lah, aku menyadari bahwa aku benar-benar tidak mungkin bergabung di dalam tim itu, karena membutuhkan perhatian dan kehadiran penuh saat kegiatan. Setiap saat bisa muncul masalah yang butuh penanganan segera dan harus ditindaklanjuti secara profesional. Fiuuuh... Aku tidak akan bisa memenuhi janji yang sudah terlanjur aku buat, karena saat ini istriku sudah memasuki minggu2 akhir kehamilannya. Ia diperkirakan melahirkan tanggal 25 bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ku putuskan untuk mengutarakan kepada teman2 dan pimpinan tim tersebut. Dan mereka bisa menerima keputusanku untuk mundur dari tim tersebut. Tapi tentu saja gurat kekecewaan tidak bisa dihilangkan dari nada bicara dan raut muka mereka. Aku telah menarik kepercayaan yang mereka berikan. Mukaku tercoreng di hadapan mereka. Namun tidak mengapa.. Keputusan ini adalah keputusan yang paling tepat. Aku tidak mungkin meninggalkan istriku yang benar2 membutuhkan kehadiranku setiap saat. Keadaan istriku saat ini adalah &lt;strong&gt;my most highly priority. &lt;/strong&gt;Kekecewaan dari sepuluh teman, tidak lah sebanding dengan ketidakpercayaan seorang istri apabila kita mengkhianati kepercayaan yang telah ia berikan. Maka biarlah teman-temanku saat ini kecewa terhadap keteledoran yang telah ku perbuat. Di waktu mendatang aku akan perbaiki kembali kepercayaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 23 Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-4003048046455290323?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/4003048046455290323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=4003048046455290323&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/4003048046455290323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/4003048046455290323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/07/hati-hati-dengan-janji.html' title='hati-hati dengan janji'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-6335096199170759750</id><published>2007-06-30T00:51:00.000-07:00</published><updated>2007-06-30T01:08:09.238-07:00</updated><title type='text'>Hmm.. sebulan lagi nih</title><content type='html'>Hmm.. Tidak terasa, kurang sebulan lagi tangisan si kecil akan meramaikan rumah kami. Tangisan yang bakal membuat kami terbangun di malam hari, yang mungkin akan membuat kami terkantuk-kantuk saat kami bekerja. Tangisan yang akan membuat seisi rumah dibuat repot karenanya. Tapi, justru tangisan (dan bau ompolnya) lah yang membuat kami rindu ingin segera berjumpa dengannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan lagi, saat-saat yang bisa kami nikmati berdua. Makanya, masa-masa ini benar-benar ingin kami nikmati. Terkadang malam hari kami lewatkan sekedar mencari nasi bebek di warung favorit kami, nongkrong sambil minum jamu di taman pondok jati, nyari gorengan buat cemilan waktu nonton tv. Tak jarang, malam sepulang kerja hanya kami manfaatkan buat ngobrol di rumah. Berdebat mengenai nama anak kami, dua.. tiga.. suku kata. Berdebat tentang si kecil bakal lebih mirip siapa (termasuk kulit hitamnya bakal ikut bapaknya apa ibunya he he..). Atau sekedar mengelus-ngelus perut istriku, apalagi si adek yang seringkali merespon kalau dielus-elus dan diajak ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan.. Bukan waktu yang lama.&lt;br /&gt;Semoga Tuhan mengaruniakan keselamatan bagi istri dan anakku tercinta..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukoasri, 30 Juni 2007&lt;br /&gt;[15:13]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-6335096199170759750?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/6335096199170759750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=6335096199170759750&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/6335096199170759750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/6335096199170759750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/06/hmm-sebulan-lagi-nih.html' title='Hmm.. sebulan lagi nih'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-2451912019943581893</id><published>2007-06-18T19:42:00.000-07:00</published><updated>2007-06-18T19:50:36.217-07:00</updated><title type='text'>Pagi Seorang PNS &amp; Istrinya</title><content type='html'>Hari ini begitu membosankan. Persis seperti hari-hari yang lain. Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan dialami oleh PNS di instansi-instansi daerah seperti diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini seperti biasa kulakoni rutinitas yang telah menjadi siklus harianku dalam kurun waktu setahun ini. Sebagai seorang muslim, bangun shubuh adalah satu hal yang biasa. Bahkan justru sebuah kewajiban. Namun bagi seorang PNS, bangun shubuh berarti sekalian persiapan untuk berangkat bekerja. Dan tentunya karena telah memiliki sebuah keluarga, istriku harus rela turut bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan-kebutuhanku sebelum berangkat ke kantor. Membikinkan segelas kopi panas, menanak nasi, berbelanja ke pasar dan kemudian memasak ekstra kilat supaya aku –sang suami– tidak telat berangkat kerja. Mungkin bagi istri seorang PNS, pagi adalah waktu tersibuk dalam hidupnya. Penuh hiruk pikuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi istriku yang juga seorang pekerja di suatu perusahaan kontraktor di Surabaya, mungkin waktu-waktu setelah aku berangkat sampai dia berangkat ke kantornya adalah waktu yang agak menyisakan ruang santai baginya. Hanya saja satu jam kesibukannya di awal hari rasanya menjadi sia-sia jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan suaminya ketika ia telah tiba di kantornya. Setidaknya ini yang menjadi bahan perenunganku akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu aku terlibat diskusi dengan beberapa orang rekan sekantor mengenai apa yang dituntut dari seorang pegawai negeri sipil di institusi pemerintahan? Ternyata jawabannya bukan mampu bekerja dengan baik menggunakan komputer misalnya, atau mampu membuat perencanaan kerja untuk lingkup kerja dan tanggung jawabnya sendiri. Tapi cukup DATANG SEBELUM JAM APEL PAGI. Itu saja yang dituntut bagi seorang PNS, dalam diskusi kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang begitu lah yang ku alami. Seperti yang terjadi padaku hari ini. Hari ini tidak ada apel pagi, melainkan upacara rutin tiap tanggal tujuh belas tiap bulannya. Hari ini aku datang pagi sekali. Jarum panjang di arlojiku menunjuk antara angka empat dan lima, sedangkan jarum pendeknya berada di antara angka enam dan tujuh. Parkir motor pun masih lengang sehingga aku masih bisa memarkir motorku di bagian terdepan dari tempat parkir kantor. Setelah mengambil kopiah di lantai tiga tempatku bekerja aku langsung turun menuju tempat absensi untuk menunaikan kewajiban menjaga absensi para pejabat eselon tiga dan empat di tempatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas upacara, seperti biasa aku kembali menuju tempat bekerjaku di lantai tiga. Dan ritual membosankan itu pun kembali terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang bisa ku kerja kan pagi itu. Jawa Pos sedang dibaca seorang rekan. Akhirnya Bhirawa yang tergeletak di meja rekanku ku sabet untuk ku baca. Seperti biasa, tidak ada yang menarik. Bhirawa seringkali hanya berisi tentang kasus-kasus korupsi yang sedang menimpa pejabat-pejabat di tempatku. Memang akhir-akhir ini pejabat di tempatku mulai ketar-ketir akibat perbuatannya di masa lampau. Dalam pengamatanku tidak semuanya pantas menanggung kesalahan, karena sebagian mungkin tidak khatam membaca perundangan tentang pengadaan barang, atau mungkin tidak berani membantah atau mengkritisi disposisi atasannya. Dan terus terang aku sudah bosan dengan berita yang itu-itu saja. Hanya butuh waktu lima menit untuk membaca headline. Halaman-halaman lain cukup dibaca judul dan lead-leadnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membaca Bhirawa, ku buka laci mejaku dan mengambil sebuah buku yang sengaja ku bawa dari rumah. Spiritual Quotient karya Danah Zohar &amp;amp; Ian Marshall. Beberapa waktu terakhir ini memang aku berusaha membuat komitmen untuk membaca kembali buku-buku psikologi yang dulu pernah ku baca. Menyegarkan kembali ilmu yang kuperoleh, begitu maksudku. Hanya saja entah kenapa pagi itu aku kurang bergairah untuk membaca buku-buku berat macam itu. Ku taruh kembali buku itu di laci meja. Ku lihat sekelilingku, di deretan meja komputer sejumlah rekan-rekan sudah sibuk mengutak-atik komputer. Entah apa yang mereka kerjakan. Mungkin mengetik draft surat untuk diajukan ke kepala sub bagian, atau justru nge-game? Yah seperti itu lah keseharian mereka. Dan aku tak perlu heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kondisi seperti ini seringkali terjadi padaku. Bingung mau ngerjain apa? Atau apa yang bisa ku kerjakan sekarang? Kadangkala memang ada kerjaan ngetik surat. Ya, ngetik surat. Terkadang kita tinggal mengganti subyek, obyek, identitas dalam surat itu. Fasilitas mail merge pada ms office akan mengefesienkan model pekerjaan seperti ini. Atau sedikit mengarang, istilah orang-orang di tempatku “ngonsep surat” (iya, ngonsep surat! Jangan salah sangka, bukan mengonsep sebuah program atau membuat perencanaan atau memberikan analisa suatu permasalahan he he..). Biasanya si bos hanya sedikit memperhatikan content surat, karena di tempatku sekarang ini lebih banyak mengurus administrasi saja. Jadi tampilan surat lah yang ia lebih perhatikan. “mas, ini tolong kurang kenceng.”, “mas ini kurang ke kiri, kurang ke kanan”, “mas ini hurufnya kegedhean, yang miji-miji gitu lho mas…”, yang lainnya, “mas, kata ‘dipertanggungjawabkan’ mestinya ini pake spasi apa nggak ya?” kadang-kadang juga, “mas, tolong ini difotokopikan masing-masing dua kali.” (he he he….) Tidak mengapa, tugas fotokopi pun akan kukerjakan dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas (insyaAllah jauh dari sifat nggrundel), tapi kalau pas gak ada kerjaan seperti hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kondisi seperti ini melanda diriku, terus terang muncul perasaan bersalah pada istriku. Merasa bersalah kalau ingat bagaimana dia harus pagi-pagi ke pasar buat menyiapkan sarapanku. Belum lagi kalau aku bilang padanya, “Dik, sepuluh menit lagi aku berangkat.” Padahal masakannya masih belum lagi diselesaikannya. Dalam kondisi kepepet seperti ini biasanya ia akan mengajukan opsi, “telur ceplok saja ya mas..” Dan aku sebagai suami yang bikin dia pontang-panting sungguh tidak bijak kalau aku tidak mengiyakan solusinya itu. Hati kecilku berkata, “Duh, rasanya sia-sia dik pontang-pantingmu pagi tadi. Suamimu ini tidak melakukan apa pun di sini. Kalau pagi datang koyok iyo-iyo’o suamimu ini. Seakan-akan bakal melaksanakan tugas yang maha penting, melayani masyarakat sebagaimana filosofi seorang civil servant. Tapi lihat, kenyataannya suamimu ini hanya termangu-mangu di sini. Mondar-mandir, bingung apa yang mau dikerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu lah yang terjadi hari ini. Sampai akhirnya diriku tergerak untuk menuju komputer tempatku biasa menulis dan lahirlah tulisan ini. Yah, semoga zeit geist, sang semangat zaman akan segera membawa negeri ini ke peradaban yang lebih baik. Sehingga dunia birokrasi tak akan melahirkan lebih banyak lagi pecundang-pecundang, namun justru akan melahirkan pejuang yang ikhlas bagi negeri ini.&lt;br /&gt;Amieen….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kapan ya masa itu datang??)&lt;br /&gt;Jl. Pahlawan 110, 18 Juni 2007&lt;br /&gt;[14:52 pm]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-2451912019943581893?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/2451912019943581893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=2451912019943581893&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/2451912019943581893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/2451912019943581893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/06/pagi-seorang-pns-istrinya.html' title='Pagi Seorang PNS &amp; Istrinya'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-5215544862883288540</id><published>2007-06-15T19:57:00.000-07:00</published><updated>2007-06-15T20:47:34.423-07:00</updated><title type='text'>Motorku ketabrak(apa nabrak)?</title><content type='html'>Sebuah kejadian mengejutkan (tapi "menyukurkan") barusan ku alami. Barusan aku ketabrak motor sepulang dari apotek beliin obatnya ocha. Hmmmf.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya barusan, belum lewat 1 jam yang lalu. Ceritanya begini. Sehabis beli obat dari apotek di Sepanjang, dengan naik motor bututku itu aku pulang ke kontrakan. Kendaraan memang agak rame di daerah jalan raya sepanjang dan raya taman. Seperti biasa aku melaju dengan kecepatan sedang, yah.. kira-kira 40-50 km/jam lah. Truk tronton, mobil, kendaraan umum, motor berjubel di situ. Gak sampe macet, rame lancar begitu istilah penyiar suara surabaya kalo mengistilahkan kendaraan padat tapi tetap lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah melewati perlintasan kereta dekat pasar sepanjang, kendaraan mulai agak lengang. Tapi, ternyata ini awal musibah. Di depanku ada truk kosong yang posisinya agak ke tengah, menginjak garis marka putus-putus, jadi ku pikir dia mau mbalap mobil or something di depannya. Naluri seorang pengendara motor membuatku mengambil posisi sebelah kiri di belakang truk kosong itu tadi. Biar bisa cepet ngambil posisi kosong begitu pikirku. Tapi entah mengapa, truk itu tiba-tiba banting stir ke kiri dan ciiiitt....aku langsung menginjak rem, belakang dan depan sekaligus! dan..bruaaak!!! motorku oleng, ketabrak dari belakang. Rupanya tadi ada motor persis di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak dengan motor (butut juga) berplat merah terjatuh. Refleks, kuhentikan motorku dan bertanya, "bapak gak apa-apa pak??". Dia diam saja, sambil berdiri dan mendirikan motornya yang terjatuh kemudian memeriksa bagian depan motornya. Aku pun juga begitu, secara spontan kuperiksa bagian belakang motorku. Dan gak apa-apa. Sekali lagi ku tanya bapak bermotor plat merah itu tadi, "bapak gak pa pa tah pak?". Dia menggeleng, tapi dengan muka pucat dia berusaha dengan menunjukkan ban depannya yang bolong, entah kena apa? Mungkin kena baut "penyeret" ban belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ekspresinya, sepertinya dia ingin bilang, "mas, aku gak apa-apa, tapi gimana nih motor saya." Tapi dia gak bilang itu, justru mempertegas dengan mengatakan, "sampeyan tadi ngerem ndadak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ekspresi dan penampilannya rasanya bikin gak tega. Mukanya pucat, seperti bingung. Penampilannya yang lusuh dan ditambah dengan penampilan motornya yang butut, gak terawat, ban depannya udah tipis sepertinya emang udah waktunya ganti. Akhirnya membuatku menawarkan membantu penggantian ban depannya. Dan bapak itu setuju. Padahal waktu itu, duitku di dompet cuman 40 ribu. Sebulan yang lalu aku barusan ganti ban luar harganya 100ribuan. Sekarang aku mikir, kok nekad ya aku nawarin kayak gitu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bareng-bareng kami menuntun motor masing-masing ke toko motor terdekat. Herannya menjelang mendekati sebuah toko motor, sang bapak berhenti dan menoleh padaku, "mas, belinya di pasar aja mas, jangan di sini, mahal." Sesaat aku berpikir lagi, wah bapak ini kok tau ya kalo aku lagi bokek? "Mmm, bapak gak apa-apa dibelikan ban bekas?". Si bapak ini tersenyum, dan bilang, "gak apa-apa mas..", dan lantas langsung menstarter motornya menuju los ban bekas di pasar sepanjang. Di sana aku bisa dapat ban bekas ukuran 250 x 18 luar dan dalamnya dengan ngeluarkan duit 35 ribu doang! Padahal kalo baru mungkin bisa sampe 80-90 ribuan. Setelah kuberikan ke bapak itu dan minta maaf karena kejadian itu, akhirnya aku melenggang pulang dengan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan aku membayangkan kembali kejadian tadi. Mengagetkan, lucu sekaligus membuatku bersyukur. Untung bapak itu tidak menuntut macam-macam. Dia cukup bijaksana untuk tidak membuat dompetku bolong dan akhirnya bisa ku pake ke warnet dan sekarang bisa menuliskan pengalaman ini di blogku ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, sebelum ketabrak (apa nabrak ya?)  tadi di depanku ada seorang pengendara motor berplat merah dengan membawa ban bekas di belakang motornya. Jujur, melihat ban bekas itu aku berkhayal membayangkan diriku berada di pasar ban bekas. Dan ternyata, gak lama kemudian diriku pun berada di situ! he he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukoasri, 16 Juni 2007&lt;br /&gt;[10:47 am]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-5215544862883288540?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/5215544862883288540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=5215544862883288540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/5215544862883288540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/5215544862883288540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/06/motorku-ketabrakapa-nabrak.html' title='Motorku ketabrak(apa nabrak)?'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-3603241656100931709</id><published>2007-06-08T00:42:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T00:47:26.230-07:00</updated><title type='text'>Pencerahan dari Emha</title><content type='html'>&lt;em&gt;Andaikan melemparkan benda ke kepala orang lain adalah pasti kejahatan, maka tindakan tidak melemparkan adalah pasti kebaikan. Maka, lagi, keadaan dilempar oleh orang lain adalah bukan hanya kebaikan, tapi juga keuntungan. Investasi. Aku menjadi mendapatkan sesuatu yang sebenarnya bukan hakku, aku akan memperoleh kemaslahatan yang semula bukan bagianku.&lt;/em&gt; (Emha, 2007:13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan kalimat di atas adalah potongan tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya yang berjudul “Istriku Seribu” (2007). Dalam bukunya tersebut ia bercerita ketika ingin meminta pendapat Yai Sudrun dengan menunjukkan karangannya tentang poligami justru sang Yai melemparnya dengan karangannya itu, tapi anehnya ia menganggap lemparan Yai Sudrun justru sebuah berkat baginya. Bahkan andaikata lemparan Yai Sudrun meleset beberapa inci dari kepalanya maka ia akan berusaha menggeser posisinya agar kepalanya terkena lemparan. Sekali lagi karena ingin berkatnya Yai Sudrun. Sebuah pemikiran yang aneh menurutku. Atau justru anarkis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba membayangkan, andaikan aku dalam posisi Emha, jangankan dilempar buku dilempar sepotong kertas pun mungkin aku akan merasa tersinggung. Kan aku hanya ingin meminta pendapat Yai Sudrun. Lha kok malah dilempar? Kenapa tidak ngomong saja kalau Yai Sudrun gak suka dengan tulisanku? Apa karena kurang referensi, kurang bermutu, kurang banyak, atau kurang apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi meskipun aneh, tulisan Emha ini bagiku memberikan sebuah pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tentang persepsi dan kekuatan pikiran. Betapa respon kita amat ditentukan dengan apa yang kita persepsikan. Dan persepsi kita itu ibarat kacamata. Sebuah realita bisa terlihat biru, hitam, putih tergantung dari warna lensa kacamata yang kita pakai. Kita bebas memilih kacamata biru, apa kacamata hitam atau kacamata dengan lensa jernih untuk kita pakai. Dan kebebasan memilih itu adalah kekuatan pikiran kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengenai pentingnya memaknai setiap kejadian yang kita lalui dengan mencari sisi positif kejadian itu, dan lebih jauh lagi memaknainya sebagai sebuah bagian dari ibadah. Lihatlah betapa Emha begitu enteng memandang kejadian yang bagiku -apabila mengalaminya sendiri- akan memaknainya sebagai sebuah penghinaan. Dia melihat bahwa dilempar orang lain bukan sebuah kehinaan, tapi justru sebuah investasi! Wah hebat, hanya orang-orang dengan tingkat spiritualitas yang tinggi lah yang dapat memberi makna lebih terhadap kejadian yang bagi orang lain adalah hal yang negatif. Ia adalah termasuk ke dalam orang-orang dengan rasa aman internal, orang yang berpedoman pada kompas bukan pada peta yang bisa usang. Ia adalah orang yang memiliki prinsip dalam berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Sedangkan prinsipnya adalah prinsip yang sejati yaitu keridhoan Allah SWT semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku sudahi tulisan ini, coba resapi kembali bagian lain dari tulisan Emha dalam bukunya berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sepanjang istriku menjadi istriku, pengalaman terbesar yang selalu dialaminya adalah bahwa suaminya difitnah orang, kemudian difitnah orang dan terus difitnah orang. Fitnah kecil maupun besar. Fitnah dengan tema remeh maupun mendasar. Tak pernah berhenti difitnah, disalahpahami, dibuang, dipinggirkan, diremehkan, disalahmengerti, ditiadakan, di-bukan-manusiakan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sesekali orang bertanya kepadanya, bagaimana rasanya suami difitnah orang terus menerus. Istriku menjawab :”Sangat senang dan bersyukur. Aku sedih dan tak bisa tidur kalau suamiku yang memfitnah orang”. Sampai-sampai terkadang kami merencanakan membuat lomba fitnah atas kami dan kami menyediakan hadiah-hadiah besar untuk para pemfitnah. Karena mereka berjasa besar kepada kami, menginfaqkan berbagai investasi masa depan yang sesungguhnya sedikitpun kami tak pernah miliki, kemudian terbukti terus menerus bahwa kami selalu memperoleh segala sesuatu yang kami tak pernah mimpikan, yang sebenarnya kami sadar bahwa kami tak memiliki kesanggupan untuk meraihnya. Hanya karena difitnah orang, maka deposito masa depan kami berkembang biak, sehingga akhirnya datang berduyun-duyun kepada kami segala kekayaan dan kegembiraan hidup yang amat didambakan para pemfitnah kami tanpa mereka pernah mendapatkannya.&lt;/em&gt; (Emha, 2007:13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, sebuah pemaknaan yang luar biasa. Maka timbul sebuah pertanyaan untuk diri ini, “sanggupkah engkau memaknai seperti itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suroboyo, 7 Juni 2007&lt;br /&gt;[13:10]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-3603241656100931709?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/3603241656100931709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=3603241656100931709&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/3603241656100931709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/3603241656100931709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/06/pencerahan-dari-emha.html' title='Pencerahan dari Emha'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-8098449331280507501</id><published>2007-05-23T02:14:00.000-07:00</published><updated>2007-05-23T02:26:08.549-07:00</updated><title type='text'>Belajar dari kisah : cerita dari Prie GS</title><content type='html'>“Belajar Dari Kisah” di Indosiar pagi ini cukup unik. Judulnya “Santri Salah Jurusan”. Dari judulnya saja terdengar aneh. Dalam pemikiran saya, santri salah jurusan itu mungkin berarti salah mengambil penjurusan dalam studinya di pesantren atau bisa juga salah naik jurusan bus waktu mudik. Penuturnya juga seorang penutur yang menurutku cukup unik. Namanya Prie G.S. Kurang jelas, apa kepanjangan “G.S.” itu. Mungkin Gondrong Sekali karena memang orangnya berambut gondrong. Namun yang menarik adalah gaya bertuturnya yang mengalir, dan bisa menguak sisi-sisi yang orang lain tidak melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang dikisahkan Prie GS itu kurang lebih begini :&lt;br /&gt;Ada satu keluarga muda yang sedang menunggu-nunggu kelahiran anaknya. Pada saat usia kehamilan sang istri baru menginjak bulan ke tujuh, mendadak sang istri sudah merasa harus melahirkan. Akhirnya di bawa lah sang istri ke rumah sakit, dan benar, ternyata istrinya dinyatakan harus melahirkan saat itu, karena air ketubannya sudah pecah. Sang jabang bayi dengan terpaksa harus menghirup udara dengan paru-parunya sendiri di saat bayi seusianya masih meringkuk nyaman dalam perut ibunya. Ia harus berjuang melawan kerasnya dunia. Saking kerasnya perjuangannya untuk bertahan hidup, untuk bernafas ia harus dibantu oleh alat bantu pernafasan. Karena kondisinya itu, tubuh kecil itu harus tergolek lemas, pucat, tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak muda sang bayi, tutur Prie GS, yang kebetulan lulusan pondok pesantren terkenal di Indonesia karena kondisi anaknya itu merasa perlu untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta untuk menyelamatkan sang anak. Dalam pemikirannya, doa itu pasti makbul apabila dipanjatkan oleh orang-orang suci, bertitel kiai atau ustadz. Akhirnya ia meminta kerabatnya di rumah untuk menyelenggarakan doa bersama di kampung tempatnya tinggal. Ia berharap ada bapak kiai yang akan memimpin doa untuk keselamatan anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatan itu pun dilaksanakan. Orang-orang kampung diundang. Bapak kiai di kampung itu pun diundang. Sayangnya pak kiai itu sudah diundang untuk mengisi pengajian di tempat lain. Bapak muda itu sendiri tidak bisa hadir, karena ia harus menunggui istri dan anaknya di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai selamatan salah seorang kerabatnya berkunjung ke rumah sakit. Lantas sang bapak muda itu menanyakan tentang siapa yang memimpin doa selamatan untuk sang anak tercinta. Betapa kecewanya dia ketika mendengar bahwa yang mendoakan sang anak adalah seorang tukang batu. Ia membayangkan tukang batu itu memiliki pengetahuan yang pas-pasan tentang agama, apalagi tentang doa-doa yang makbul. Ia bukan termasuk orang-orang suci yang didengar doa-doanya oleh Allah yang Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ia bertanya kembali, doa apa yang dipanjatkan oleh si tukang batu? Kerabatnya lalu melafalkan doa yang diucapkan oleh si tukang batu. Terperanjatnya ia demi mendengar bahwa doa itu adalah doa percepatan kematian. Doa itu tentunya akan semakin mempercepat kematian anaknya. Tanpa sadar, air matanya meleleh meratapi nasib anaknya yang malang.&lt;br /&gt;Belum habis rasa terperanjat sang bapak muda itu tadi, sayup-sayup ia mendengar suara lirih dari seorang bayi. Awalnya ia mengira itu adalah suara bayi lain. Namun karena suara tangisan itu semakin keras, ia lantas menghampiri arah suara. Dan betapa kagetnya ia mendapati sang anak menangis. Tak hanya itu saja, anak itu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Padahal sebelumnya bayi itu lemas dan pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya sang bapak muda itu. Bahagia, terharu dan juga merasa bersalah. Ia merasa bersalah kepada sang tukang batu, karena ia telah bersu’udzan kepadanya. Kejadian itu kemudian membalikkan paradigma sang bapak muda itu tentang Tuhan. Ia berpikir, betapa selama ini ia begitu menghinakan Tuhannya. Bahwa ia selalu menganggap bahwa Tuhan, Allah Azza wa Jalla hanya akan mendengar doa orang-orang suci, bertitel kiai dan ustadz saja. Betapa Tuhan pilih kasih, sayang hanya kepada manusia tertentu yang diberi titel tertentu pula oleh manusia yang lain. Ia meremehkan salah satu dari 99 sifat Tuhan yang dulu setiap hari dinyanyikannya di pesantren bersama teman-temannya. Anggapannya tentang Tuhan benar-benar berubah. Allah, berhak mengabulkan harapan, doa, keinginan siapa pun hamba-Nya. Siapa pun yang dikehendakinya. Benar atau keliru doa yang dipanjatkannya. Allah lah yang Maha Menentukan. Ia lah juga yang menentukan kepada siapa rahmat dan berkahnya akan diberikan. Tak peduli apakah ia hanya sekedar tukang batu belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan 110, 23 Mei 2007&lt;br /&gt;15:20 pm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-8098449331280507501?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/8098449331280507501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=8098449331280507501&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/8098449331280507501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/8098449331280507501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/05/belajar-dari-kisah-cerita-dari-prie-gs.html' title='Belajar dari kisah : cerita dari Prie GS'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-6462107128097279359</id><published>2007-05-02T02:00:00.000-07:00</published><updated>2007-05-02T02:09:31.905-07:00</updated><title type='text'>Sebelas bulan berkarya</title><content type='html'>Tak terasa, sudah hampir setahun lamanya aku bekerja di tempat ini. Juni 2006 aku mulai bekerja, sekarang sudah Mei 2007. Sebelas bulan, bukan waktu yang singkat bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas bulan. Apa yang sudah aku kerjakan? Ilmu apa yang sudah dapatkan dari tempatku bekerja sekarang? Apakah memang tempat ini yang benar-benar ditakdirkan menjadi tempatku berkarya seterusnya? Yang terpenting lagi adalah, apakah rejeki yang ku dapatkan dari tempat ini mendapatkan berkah dari-Nya? Apakah istri dan anak-anakku kelak pantas memakan dari rejeki yang ku peroleh di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas bulan. Waktu yang cukup panjang untuk mempelajari banyak hal. Lantas apa yang sudah ku pelajari selama itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu saat dua tahun berkarya di tempat sebelumnya, sungguh banyak hal yang ku pelajari. Tentang pekerjaan itu sendiri, tentang menjalin hubungan dengan orang lain, karakter-karakter manusia di dunia kerja, efesiensi dan efektivitas, cara menghemat energi baik fisik maupun psikis, teknologi baru and many things i’ve got there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas bulan berkarya. Apa yang telah ku dapatkan?&lt;br /&gt;Sungguh selama waktu yang demikian panjang itu, banyak waktu yang telah tersia-siakan, percuma. Banyak waktu hanya terlewat begitu saja. Tak terisi dengan hal-hal yang berguna. Malah mungkin semakin sering ku mengeluh, mengkritik, menunggu. Tersedot oleh energi-energi negatif di luar diri. Mana proaktivitas itu? Mana etos kerja yang menjadi kebanggaan dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas bulan telah berlalu. Menyedot usia yang semakin berkurang satu demi satu..&lt;br /&gt;Lantas apakah rejeki yang ku dapat memang pantas ku terima? Kegelisahan masih senantiasa mengintip. Apakah yang selama ini ku dapatkan akan mendapatkan ridho-Mu ya Allah? Hanya Engkau yang Maha Tahu. Semoga Engkau kan menuntunku menuju jalanMu yang lurus, jalan yang selalu Kau ridhoi, ya Tuhanku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suroboyo, 2 Mei 2007&lt;br /&gt;Pahlawan 110&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-6462107128097279359?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/6462107128097279359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=6462107128097279359&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/6462107128097279359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/6462107128097279359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/05/sebelas-bulan-berkarya.html' title='Sebelas bulan berkarya'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-2790827825323962830</id><published>2007-04-12T02:29:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T02:58:00.224-07:00</updated><title type='text'>Hati-hati dengan persepsi anda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hari itu, jam satu siang, stasiun pengisian bahan bakar itu terlihat lengang. Cuma ada tujuh kendaraan mengantre, dilayani empat orang petugas masing-masing dua orang untuk satu mesin pompa. Dari kejauhan nampak seseorang menuntun motor supra X miliknya. Rupanya dia kehabisan bensin. Dengan tersengal-sengal karena kelelahan ia langsung menuju deretan yang baru ada tiga motor yang antre, berharap segera terlayani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi benar-benar tepat sampai pada deretan antreannya, ia turun dari motornya. Kira-kira satu meter dari motor di depannya. Motor bebek memang merepotkan kalau kita mau mengisi bensinnya. Kita harus turun untuk membuka jok yang menghalangi lubang tanki. Agak lama ia berusaha membuka jok motornya. Mungkin kuncinya macet.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat tengah berusaha membuka jok motornya, satu motor yang tengah kehausan datang, minta diisi. Pengendara motor kedua itu langsung menuju ke antrean yang dituju pengendara yang pertama. Ia langsung mengambil posisi agak tepat di belakang motor-motor yang sudah antre. Menyadari posisinya diserobot, pengendara motor pertama langsung berusaha maju. Hampir bersamaan dengan datangnya motor kedua, sehingga ban depan kedua motor itu hampir bertabrakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pengendara pertama berusaha mempertahankan posisinya. Ia terus berusaha maju. Tapi pengendara kedua tak mau mengalah, ia pun terus maju. Karena sama-sama tak mau mengalah keduanya sama-sama tak bisa maju.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lho mas, anda ini bagaimana?”, kata pengendara pertama sambil memandang tajam. Marah.&lt;br /&gt;“Antre mas! Antre! Anda tadi tidak antre. Saya yang antre di sini!”, pengendara kedua membela diri&lt;br /&gt;“Saya datang duluan!”, pengendara pertama mempertahankan diri.&lt;br /&gt;“Anda tadi ada di deretan sana!”, pengendara kedua menunjuk ke tempat pengendara pertama tadi berhenti. Matanya melotot, dengan nada bicara yang semakin meninggi.&lt;br /&gt;Semua mata memandang. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkin mereka berpikir, kedua orang ini mungkin sama-sama capek karena kepanasan. Mungkin sebagian berpikir, pengendara pertama salah karena tidak langsung antre. Sebagian yang lain menyalahkan pengendara kedua yang main serobot saja.&lt;br /&gt;Pemilik Supra X sesaat terdiam. Alis matanya saling berpaut seperti dua calok yang disatukan ujung-ujungnya.&lt;br /&gt;“Ya sudah mas, monggo, anda duluan.”&lt;br /&gt;Pengendara kedua terdiam.&lt;br /&gt;“Ya sudah. Monggo!”, tegas pengendara pertama sambil menyorongkan tangannya ke arah antrean. Sesaat kemudian pengendara kedua langsung mengambil tempat antrean itu. Pengendara pertama mengambil posisi di belakangnya. Entah apa yang sedang dipikirkan keduanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;# # # # #&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin pernah menghadapi situasi seperti ini. Apalagi anda yang tinggal di kota-kota besar seperti Surabaya, situasi seperti ini agaknya sudah akrab dalam keseharian kita. Situasi yang sangat emosional, yang apabila kita lepas kontrol justru kita sendiri yang akan merugi.&lt;br /&gt;Jika anda sendiri berada dalam situasi ini apa yang akan anda lakukan? Mempertahankan pendapat anda bahwa anda benar, atau justru mengalah?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika anda lebih memilih untuk ngotot mempertahankan pendapat bahwa anda lah yang paling benar, maka itu adalah pilihan yang wajar. Wajar karena anda memiliki fakta yang anda klaim sebagai fakta yang tervalid dan terakurat. Fakta yang anda anggap sebagai satu-satunya kebenaran yang secara moral menuntut kepribadian kita untuk mempertahankannya. Dan ini memang sunnatullah, hukumnya Allah. Hati nurani kita akan selalu berkata yang benar harus menang melawan yang salah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi lain yang kerap muncul di berita-berita di TV misalnya, kita sering melihat berita penggusuran bedhak-bedhak pedagang kaki lima oleh SATPOL PP yang ditentang habis-habisan oleh pemilik bedhak yang terkadang sudah puluhan tahun berjualan di tempat itu. Mungkin dalam benak si pedagang kaki lima mereka tidak bersalah berdagang di tempat itu, karena toh sudah bertahun-tahun mereka berada di situ dan tidak diapa-apakan. Mereka harus menghidupi anak-anak mereka di tengah mahalnya biaya pendidikan. “Pemerintah tak akan menjamin kehidupan saya lebih baik, kalau bukan saya sendiri yang berjuang”, mungkin begitu pemikiran mereka. Mereka ini bahkan membayar “pajak” kepada oknum-oknum tertentu, sehingga dalam nalar mereka jualan mereka sudah legal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi SATPOL PP mungkin satu-satunya kebenaran adalah surat perintah penggusuran yang datang dari atasan mereka. Bagi mereka doktrin “Pengamanan PERDA” adalah satu-satunya kebenaran sejati. Dan lawan mereka, para pedagang kaki lima, adalah pelanggar kebenaran yang harus dibasmi segera. Maka yang benar harus menang!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilustrasi yang lain, saat saya masih kecil banyak cerita-cerita dalam video yang serupa dengan hal ini. Megaloman, Google Five, Gaban, Zabogar adalah tokoh-tokoh yang selalu digambarkan pembela kebenaran. Para monster yang mengganggu ketenangan penduduk bumi akan mereka hancurkan. Megaloman dengan rambut apinya, Google dengan formasi robot raksasanya, Gaban dengan baju robotnya, Zabogar yang dengan perintah bosnya akan segera berubah dari rupa motor menjadi jagoan sejati. Siap menghancurkan kejahatan. Yang salah harus kalah!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka tak salah kalau situasi di pom bensin itu kerapkali terjadi. Karena dalam bawah sadar kita telah tertanam bahwa kalau kita benar, jangan segan melawan, karena kebaikan harus lah menang melawan yang jahat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah apa yang akan terjadi setelah itu?&lt;br /&gt;Banyak kemungkinan. Bisa jadi lawan kita mengalah, mempersilahkan kita maju duluan. Tapi bisa juga sebaliknya, kita tidak bisa segera mendapatkan tujuan awal kita yaitu mengisi bensin karena terlalu lama otot-ototan. Yang parah dan konyol, dan ini pun kadang juga terjadi, kalau gara-gara ngotot mempertahankan posisi akhirnya saling tukar bogem mentah. Kepala benjut, badan sakit, dan lebih konyol lagi kalau harus masuk rumah sakit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;BERSIKAP LEBIH BIJAK&lt;br /&gt;Saya tidak akan mengatakan bahwa mengalah adalah sikap yang terbaik dalam situasi seperti ini. Tapi kita harus bersikap lebih bijak dalam situasi seperti ini. Sikap bijak yang saya maksud adalah dengan tidak berpikir sempit dalam segala situasi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah, junjungan kita Rasulullah SAW pernah dalam situasi yang lebih parah. Ketika ia hendak berdakwah di salah satu tempat ia sempat ditolak oleh penduduk di sana dengan cara dilempari batu bahkan dalam kisahnya sampai gigi beliau rontok. Di saat seperti itu malaikat Jibril datang menawarkan bantuan. Sang Malaikat menawarkan untuk mengangkat sebuah gunung untuk dijatuhkan ke pemukiman itu sebagai balasan dari perbuatan jahat mereka. Namun justru hal tersebut ditolak oleh Rasulullah. Ia malah berdoa kepada Allah untuk mengampuni kaum itu karena ketidaktahuan mereka. Dan sejarah pun akhirnya mencatat bahwa kaum itu pun akhirnya menjadi pengikut Rasulullah yang setia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nah, betapa Rasulullah lebih mementingkan sikap daripada mengedepankan fakta. Fakta yang bukan main-main karena didukung oleh kesaksian malaikat, makhluk Allah yang dikenal kepatuhannya kepada Allah. (Ternyata malaikat pun bisa terpancing emosinya )&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam literatur-literatur psikologi, dalam struktur otak manusia ada sesuatu yang menjadi pengatur respon emosi manusia. Benda itu bernama Amigdala. Dalam situasi normal stimulus yang diterima oleh indera kita akan disalurkan ke struktur rasional otak yang bernama cortex melalui amigdala dan kemudian muncullah respon kita dalam hitungan se-per-sekian ratus detik. Namun dalam situasi darurat terkadang respon kita muncul dari amigdala tanpa disalurkan ke cortex. Mekanisme ini sebenarnya muncul sebagai mekanisme manusia dalam mempertahankan diri untuk hidup. Mekanisme ini penting sekali untuk mendukung kita mengambil keputusan-keputusan penting di kala darurat. Namun menjadi tidak relevan kalau “ancaman” emosional yang sebenarnya bisa kita sikapi secara bijak dan rasional direspon secara emosional pula oleh amigdala dan merugikan kita dalam jangka panjang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang yang cerdas secara emosi akan menghindari “pembajakan emosi” itu dengan berusaha berpikir secara rasional. Memikirkan respon yang harus diberikan beserta implikasi-implikasi yang akan ia terima selanjutnya dari perbuatan yang hendak ia lakukan. Rasul telah memberikan tuntunannya dalam menghadapi “pembajakan emosi” ini. Beliau dalam salah satu hadisnya memberikan tuntunannya untuk meredam respon yang emosional. &lt;strong&gt;Menurut beliau jika kita marah, maka hendaklah kita diam sejenak.&lt;/strong&gt; Jika kita dalam keadaan berdiri maka hendaklah kita duduk. Jika kita duduk hendaklah kita berbaring. Intinya kita harus rileks sejenak melemaskan pikiran kita sehingga kita bisa berpikir rasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;# # # # #&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kisah pengendara motor yang saya ceritakan dalam tulisan di atas adalah kisah yang saya alami sendiri. Saya ketika itu saya lebih memilih mengalah karena saya yakin bahwa kami sama-sama sedang merasa menjadi pihak yang paling benar. Dalam situasi seperti itu maka tak akan pernah ditemukan titik temu jika kita ngotot dalam posisi masing-masing. Saya teringat apa yang diajarkan dosen saya, &lt;strong&gt;dua orang atau dua pihak dengan mindset yang berseberangan tak akan pernah menemukan kesepakatan yang damai&lt;/strong&gt;. Jadi saat itu saya lebih memilih bersikap untuk membayangkan bahwa mungkin orang itu sedang kebelet sehingga ia ingin cepat-cepat dilayani petugas SPBU. Dan karenanya akhirnya saya pun bisa memakluminya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kisah tersebut ditulis 21 Februari 2007&lt;br /&gt;Baru saya selesaikan 6 Maret 2007, 1130 AM&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-2790827825323962830?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/2790827825323962830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=2790827825323962830&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/2790827825323962830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/2790827825323962830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/04/hari-itu-jam-satu-siang-stasiun.html' title='Hati-hati dengan persepsi anda'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-3085918025595524405</id><published>2007-03-02T00:15:00.000-08:00</published><updated>2007-03-02T00:19:00.038-08:00</updated><title type='text'>Mulai harimu dengan kebaikan</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Sebuah konsep yang tak asing lagi. Sudah seringkali kita dengarkan kata-kata bijak ini dari pengajian-pengajian, nasehat orang tua kita, e-mail yang kita terima dari rekan-rekan kita, bahkan tak jarang kita temukan tertulis di stiker-stiker di angkot.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Saya sendiri sudah lupa, dari mana tepatnya saya mendengar atau membaca petuah bijak ini. Mungkin dari saya baca dari kumpulan hadis nabi, atau mungkin dari attachment e-mail saya. Tak peduli dari mana kata-kata ini berasal, yang jelas kata-kata ini melekat kuat dalam nurani saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Apabila kita telaah, kalimat yang amat sederhana ini memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam. Sedikitnya ada dua konsep sunnatullah yang tercakup di dalamnya. Pertama, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;konsep waktu&lt;/span&gt; yang diwakili dengan kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“mulai harimu”&lt;/span&gt;. Kedua yang tak kalah penting adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;konsep akhlak &lt;/span&gt;yang diwakili oleh kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“..kebaikan”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; “&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;b&gt;Demi waktu”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Ada satu surat dalam Al-Qur’an yang tergolong dalam surat-surat Juz Amma yang selalu menjadi favorit saya sebagai bacaan surat pendek setelah Al-Fatihah. Surat Al-Ashr, surat pendek yang hanya terdiri dari tiga ayat saja. Bukan karena pendeknya hingga akhirnya surat ini menjadi favorit saya, tapi karena maknanya yang membuat hati ini selalu bergetar setiap kali membacanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Demi Waktu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sesungguhnya manusia itu merugi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kecuali orang-orang yang beramal sholeh, senantiasa berbuat kebajikan dan selalu bersabar&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Seringkali saya mencoba menghayati makna ayat ini, mengapa Dia bersumpah atas nama waktu? Mengapa bukan yang lain? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Coba kita bayangkan ilustrasi berikut. Pernahkah kita bandingkan produktivitas kita selama 24 jam waktu kita dengan waktu yang dilalui oleh orang lain? Minimal dengan orang-orang terdekat kita, seperti keluarga, sahabat-sahabat kita, teman-teman kantor atau tetangga kita. Apakah waktu yang kita lalui sudah lebih baik dari orang lain? Apakah waktu yang kita lalui sudah lebih banyak kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat ketimbang hanya sekedar mengisi waktu luang? Sudah berkualitaskah waktu-waktu yang kita lewati? Sudah lebih baikkah kita waktu yang kita lewatkan saat ini dibandingkan satu atau dua tahun yang lalu?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Dalam penjelajahan pikiran saya menemukan bahwa semua orang sama-sama menjalani hidupnya selama 24 jam dalam sehari, tidak kurang dan tidak lebih. Namun cara setiap orang memanfaatkan waktunya itu ternyata tidak sama. Ada orang yang selama 24 jamnya bisa melakukan 100 macam kebaikan, ada yang bisa melakukan 50 macam kebaikan, ada yang hanya bisa melakukan 10 kebaikan saja, bahkan ada yang cuma 1 macam kebaikan. Malah ada yang defisit. Alih-alih melakukan kebaikan, selama 24 jam hidupnya hanya diisi dengan sesuatu yang tak berguna. Dan Allah Maha Benar, orang-orang yang defisit dalam memanfaatkan waktunya itu termasuk dalam orang-orang yang merugi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Nah, sekarang coba kita renungkan, kita termasuk yang mana?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;Dan sudah sanggupkah kita memulai hari-hari kita dengan kebaikan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.08in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="right"&gt; &lt;span style="font-size: 11pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;(Suroboyo, 15 February 2007, 10&lt;sup&gt;00 &lt;/sup&gt;AM)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-3085918025595524405?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/3085918025595524405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=3085918025595524405&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/3085918025595524405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/3085918025595524405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/03/mulai-harimu-dengan-kebaikan.html' title='Mulai harimu dengan kebaikan'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-5316795467328465146</id><published>2007-02-16T22:42:00.000-08:00</published><updated>2007-02-16T23:21:29.040-08:00</updated><title type='text'>mencari sarang</title><content type='html'>Satu tugas perkembangan yang pasti dilalui oleh semua yang hidup adalah MENCARI SARANG. Contoh paling mudah, burung. Setiap burung yang mau kawin, dia pasti akan membuat sarang terlebih dahulu. Beberapa jenis burung bahkan menjadikan sarang sebagai semacam mas kawin untuk sang betina. Jadi sebelum si jantan membuatkan sarang jangan harap dia akan dilirik oleh betina-betina unggul. Karena mungkin mana mau si betina kawin dengan seekor jantan yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;homeless&lt;/span&gt;. Kalau waktunya bertelur mau ditaruh di mana? Gak umum kan anak-anak burung yang lucu yang baru menetas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keleleran&lt;/span&gt; karena tidak punya sarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak burung, gak manusia, kita pun harus mencari sarang. Untungnya tidak semua betina dari jenis manusia mempersyaratkan setiap jantan yang mau mengawininya harus punya sarang. Banyak juga manusia yang membuat sarang justru setelah menikah. Bahkan ada pula yang membuat sarang setelah punya anak! Dan ada juga yang apes, sampai mati dia gak pernah bikin sarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia aku pun suatu saat ingin memiliki sarang. Aku ingin memiliki sebuah sarang yang nyaman. Di sana aku bisa melakukan segala aktivitas yang kusenangi bersama istri dan anak-anakku. Aku ingin sebuah sarang yang kondusif untuk membina sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Tempat itu menjadi tempat diskusi yang asyik dengan istriku dalam merancang masa depanku. Di sarang yang nyaman itu pula aku akan membesarkan dan mendidik anak-anakku sampai mereka mampu terbang dengan sayap mereka sendiri. Di sarang itu aku akan bermasyarakat dengan penghuni sarang-sarang yang lain. Dan di sana pula aku akan menghabiskan masa tua bersama dengan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, indahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat ini aku belum punya sarang. Aku masih mencari-cari sarang yang tepat. Selain itu aku masih belum punya modal buat beli sarang. Aku berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama aku bakal memilikinya. Yah, paling lama dua tahun lah. Karena harga sarang di Surabaya dan sekitarnya benar-benar mahal. Di daerah Sukodono, sekitar 10 km arah tenggara Sidoarjo atau 10 km dari Waru ke arah utara, harga sarang tipe 36/90 sudah mencapai kurang lebih 85 juta. Di daerah pinggir-pinggir Surabaya gak jauh-jauh dari harga segitu lah. Padahal, dengan kondisi pemasukan yang pas-pasan seperti aku ini, yang kalau dibantu istri bekerja pemasukan jadi berkisar antara 2,5-4 juta per bulannya kami harus punya modal awal minimal 38 juta. Itu supaya kami gak ngos-ngosan nyicilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya punya sarang.. Betapa beruntungnya teman-teman yang gak perlu repot-repot mencari sarang. Dan bagi yang sama-sama bernasib seperti diriku yang sedang mencari sarang ini, betapa beruntungnya kita, karena kita diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk merasakan indahnya perjuangan mencari dan membuat sarang. Semoga kita cepat-cepat diberikan rejeki berupa sarang oleh-Nya. Agar kita bisa saling mengunjungi dan bersilaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman-Sidoarjo,17 Februari 2006, 14:35&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-5316795467328465146?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/5316795467328465146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=5316795467328465146&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/5316795467328465146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/5316795467328465146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/02/mencari-sarang.html' title='mencari sarang'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-1241421758185476273</id><published>2007-01-12T23:48:00.000-08:00</published><updated>2007-01-13T00:43:52.016-08:00</updated><title type='text'>Rumahku</title><content type='html'>Kali ini, aku ingin berbagi cerita tentang rumah. Tapi bukan sembarang rumah, melainkan rumah tanggaku yang baru kujalani sekitar 3 bulan ini. Banyak cerita dari kehidupan baru ini, ada suka.. dan tentunya duka juga tak luput mengiringi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ocha istriku, sebenarnya bukan orang baru dalam kehidupanku. Jauh sebelum kami akrab, kami saling mengenal sebagai kakak-adik angkatan di kampus. Dia satu tahun di bawahku, tapi beda bidang studi. Tapi itu pun hanya sekedar kenal nama dan wajah. Kenal pun hanya sekedar menyapa saja, karena kebetulan temanku -yulis- satu kos dengannya. Dari hanya sekedar kenal itu kesan pertama yang aku tangkap dari istriku ini adalah dia adalah orang yang pendiam dan bersahaja. Yang membuat sedikit memberikan chemistry saat itu adalah hidung mancung dan jilbab putihnya. Sekedar chemistry saja, tanpa tindak lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tanpa terasa sudah 3 bulan sejak pernikahan kami. Waktu yang sekilas pendek, tapi justru dari perjalanan waktu yang cuma sebentar ini aku justru merasa belajar banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah jika pasangan hidup kita dalam bahasa Jawa diistilahkan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garwa. &lt;/span&gt;Artinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sigarane nyawa&lt;/span&gt;, separuh dari jiwa kita. Jika pasangan kita adalah separuh dari diri kita sendiri, maka dia tak ubahnya adalah kita sendiri. Istri/suami kita ini yang akhirnya menjadi tempat kita mengaca tentang apa dan siapa diri kita sebenarnya. Betapa jika kita mau berusaha mencari hikmah atas kejadian-kejadian yang kita lewati bersama, maka kita mendapatkan hal-hal yang justru tak pernah kita tahu sebelum kita menikah tentang diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula selama 3 bulan pernikahanku dengan Ocha.  Hidup bersama dengannya membukakan mataku betapa masih kurang ilmu yang kita miliki.  Betapa masih banyak kekurangan yang dimiliki oleh diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pernikahan, aku yakin bahwa ilmu yang aku peroleh di fakultas psikologi akan banyak membantu. Ilmu yang kumaksud adalah segelintir teori tentang perkembangan masa dewasa awal, serta sedikit teori tentang perbedaan struktur emosi laki-laki dan perempuan. Namun teori tanpa praktek, tentunya belum banyak membantu. Hanya sekedar peta, tanpa menunjukkan medan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan rumah tanggaku ini, seperti halnya -mungkin- pasangan-pasangan baru lainnya juga diwarnai dengan hal-hal emosional. Pertengkaran-pertengkaran kecil, ketidaknyamanan terhadap kebiasaan-kebiasaan pasangan, sikap manja istriku berhadapan dengan sikap keras yang kumiliki adalah kerikil-kerikil dalam perjalanan rumah tangga kami yang seumur jagung ini. Sungguh, apabila permasalahan-permasalahan kecil yang emosional itu jika tidak dihadapi dengan kepala dingin, sikap sabar dan ikhlas maka niscaya akan berubah menjadi perang baratha yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah apa yang ku dapat dari pernikahan ini? Ternyata sikap sabar dan ikhlas adalah software utama yang harus kumiliki saat ini. Sikap yang begitu mudah diucapkan dan dinasehatkan, namun cukup sulit melakukannya. Rasanya sikap ini pun relevan dalam setiap aspek kehidupan di luar pernikahan kita. Dalam dunia kerja sikap sabar dan ikhlas -tentunya dalam konteks yang sesuai- akan meningkatkan kinerja kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, hal itu lah yang baru aku pelajari dari rumahku. Namun waktu terus berjalan. Jika Allah mengijinkan 7 bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah. Sungguh sebuah amanah yang berat. mendidik seorang anak manusia sehingga ia menjadi sukses dunia-akhirat. Tentunya ada lagi hal baru yang akan kupelajari..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.. Alhamdulillah saat ini aku telah dianugerahkan sebuah "rumah". Semoga teman-teman lain yang belum sampai pada tahapan perkembangan ini akan segera melampauinya. Sehingga kita bisa sama-sama belajar. Right? :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-1241421758185476273?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/1241421758185476273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=1241421758185476273&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/1241421758185476273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/1241421758185476273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2007/01/rumahku.html' title='Rumahku'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-116701858218129923</id><published>2006-12-24T19:23:00.000-08:00</published><updated>2006-12-24T19:49:42.193-08:00</updated><title type='text'>repotnya jadi ibu..</title><content type='html'>Sekarang aku semakin tersadar, bahwa perjuangan menjadi seorang ibu adalah benar-benar sebuah proses yang amat sangat merepotkan. Maka benar sekali pepatah yang mengatakan bahwa SURGA BERADA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa susahnya orang hamil. Makan tak enak, setiap saat selalu disergap rasa mual dan muntah, menjadi tak akrab dengan bau-bauan yang menyengat -bahkan yang wangi sekalipun-, tubuh lemas tak bertenaga. Terlebih lagi saat trisemester pertama kehamilan. Ancaman abortus senantiasa mengintai sehingga kehati-hatian adalah rumus yang harus dicamkan oleh seorang calon ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon-calon bapak pun juga ikut-ikutan repot. Namun, walaupun betapa repotnya seorang suami dia tak pernah merasakan betapa susahnya mengandung benih yang dititipkannya pada wanitanya. Hanya saja minimal, para calon bapak pun sebenarnya ikut merasakan dengan rasa sedih jika sang istri terserang symptom-symptom di awal kehamilan itu. Betapa tidak? Bagaimana tidak sedih jika seorang laki-laki melihat istri yang disayanginya tak mau menelan barang sesuap makanan? Semakin sedih lagi apabila makanan yang cuma sesuap itu akhirnya dimuntahkan kembali oleh sang permata hati? Padahal dengan susah payah ia merayu sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;garwa &lt;/span&gt;makan barang sesuap dan minum barang seteguk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, memang harus diakui bahwa tak ada yang mengalahkan perjuangan seorang ibu mengandung anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ibu..&lt;br /&gt;Terima kasih istriku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, jika engkau tlah lahir kelak senantiasa sayangi bundamu&lt;br /&gt;Jangan kau lukai hatinya, hargai perjuangannya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-116701858218129923?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/116701858218129923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=116701858218129923&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/116701858218129923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/116701858218129923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/12/repotnya-jadi-ibu.html' title='repotnya jadi ibu..'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-116625796920774851</id><published>2006-12-16T00:28:00.000-08:00</published><updated>2006-12-16T00:32:49.216-08:00</updated><title type='text'>istriku hamil! :)</title><content type='html'>Alhamdulillah..&lt;br /&gt;Hari Sabtu,9 Des 2006 lalu istriku menunjukkanku kalo ada 2 garis merah muda di test pack-nya. Artinya dia hamil! Wah, deg2an nih. Bakalan jadi calon ayah. Yah semoga lancar dan gak ada halangan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-116625796920774851?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/116625796920774851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=116625796920774851&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/116625796920774851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/116625796920774851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/12/istriku-hamil.html' title='istriku hamil! :)'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-116341039369773329</id><published>2006-11-13T01:16:00.000-08:00</published><updated>2006-11-13T01:33:13.706-08:00</updated><title type='text'>pernikahanku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2462/3565/1600/fotoku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2462/3565/320/fotoku.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah..&lt;br /&gt;pada 29 Okt kemarin aku telah melangsungkan pernikahanku dengan istriku, Ocha. Mohon doanya agar kami selalu dianugerahi kemampuan untuk bertumbuh bersama sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah.. Dan mohon doanya agar kami segera diberikan momongan yang selalu menjadi permata hati keluarga kami..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-116341039369773329?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/116341039369773329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=116341039369773329&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/116341039369773329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/116341039369773329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/11/pernikahanku.html' title='pernikahanku'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115983341807044107</id><published>2006-10-02T15:51:00.000-07:00</published><updated>2006-10-02T20:12:18.960-07:00</updated><title type='text'>Surga di Andalusia (sebuah catatan di bulan Ramadhan)</title><content type='html'>"Sepotong surga di Andalusia"&lt;br /&gt;Begitu membaca judul buku itu, aku langsung tertarik. Kelihatannya layak untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tentang sejarah Islam. Apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca buku ini, ada sebuah fakta yang cukup menarik yang justru baru aku tahu. Ternyata, peradaban barat yang diklaim sebagai peradaban yang paling beradab sekarang ini justru berawal dari kebudayaan Islam pada abad 10-12 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andalusia nama tempat peradaban Islam itu. Sekarang sebagian wilayahnya termasuk dalam wilayah negara Spanyol. Berawal dari larinya salah seorang pangeran dari keturunan dinasti Umayyah dari Damaskus-Syiria ke wilayah Andalusia dikarenakan kudeta yang dilakukan oleh Dinasti Abassiyah. Pangeran itu adalah satu-satunya yang tersisa dari Dinasti Umayyah setelah semua bagian dinasti dibantai dalam peristiwa kudeta sekitar tahun 750 Masehi. Saat itu dari literatur-literatur sejarah yang pernah ku baca, Majapahit masih berjaya. Digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer, pada masa itu perempuan-perempuan di Jawa belum memakai penutup dada. (Nah... bisa membayangkan kan he he...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran dari dinasti Umayyah itu bernama Abd Al-Rahman. Ia melarikan diri mencari suaka politik ke wilayah terjauh dari kekuasaan Abbassiyah waktu itu, yang penduduknya relatif setia pada dinasti Umayyah. Di kawasan gurun Afrika tepatnya di Maroko. Bersama dengan penduduk Maroko -dalam buku ini disebut sebagai suku Barber- mereka melakukan ekspansi dengan menyeberangi selat yang memisahkan antara benua Afrika dan Eropa, yaitu selat Gibraltar menuju sebuah wilayah yang disebut sebagai Al-Andalus. Di wilayah ini pula ternyata terdapat permukiman muslim yang cukup luas yang dianggap sebagai propinsi Dar-Al Islam yang dulunya dikuasai oleh Dinas Umayyah. Karena mungkin jauh dari lokasi kudeta, wilayah ini nyaris tak tersentuh oleh hiruk pikuk di pusat kekhalifahan yang kemudian oleh Dinasti Abbassiyah dipindahkan ke Baghdad-Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abd Al Rahman yang walaupun keluarganya telah dimusnahkan, oleh penduduk di wilayah Andalusia masih dihormati sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Karena pengakuan itu lah kemudian Abd Al Rahman kemudian mengembangkan wilayah Andalusia seperti pusat kekuasaan dinasti Umayyah dulu di Damaskus. Islam berkembang sebagai agama yang damai, sebagaimana dulu di Damaskus. Sebagai agama penguasanya, maka wajar apabila kehidupan politik, intelektual, perekonomian di Kordoba (ibu kota istana Abd Al Rahman) sangat dipengaruhi oleh Islam. Tak terkecuali bahasa yang digunakan waktu itu. Bahasa Arab menjadi lingua franca di wilayah itu. Semua komunitas menggunakannya, termasuk komunitas Zimmi yang dilindungi ; Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini lah, kemudian bahasa Arab menjadi bahasa internasional waktu itu. Semua pengetahuan dari bahasa lain diterjemahkan dalam bahasa arab. Termasuk juga bahasa yunani. Sehingga tak heran juga dari komunitas muslim waktu itu muncul kaum intelektual seperti Ibn Sina dan Al Jabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kordoba berkembang di saat Eropa tenggelam dalam abad pertengahan yang penuh kegelapan. Komunitas Kristen Eropa terjebak pada keyakinan mereka sendiri bahwa tidak ada bahasa yang paling suci selain bahasa Latin yang digunakan dalam aktivitas keagamaan mereka. Di saat para penduduk Andalusia dengan bebas sibuk dalam kegiatan intelektual mereka; membaca, menulis syair-syair, di Eropa kegiatan itu dilarang dan hanya boleh dilakukan para Pendeta sebagai kaum yang memegang otoritas kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andalusia benar-benar wilayah yang inklusif. Pada saat Abd Al Rahman II -cucu Abd Al Rahman yang lari dari Damaskus- berkuasa, perdana menterinya waktu itu adalah orang Yahudi. Ini terjadi pada abad kedua kekuasaan Dinasti Umayyah di Kordoba sekitar tahun 800-900 Masehi. Bisa dibayangkan, betapa seluruh aspek kehidupan begitu dikuasai oleh ideologi Islam yang inklusif. Bahkan tiga agama besar, Islam, Kristen dan Yahudi pun hidup berdampingan dengan bahasa persatuan -bahasa Arab- dan mengembangkan sebuah kebudayaan yang sangat menakjubkan. Kebudayaan ini lah yang kemudian diadopsi oleh kebudayaan barat setelah kekuasaan Islam runtuh. Bahkan raja-raja Kristen yang taat pun saat itu digambarkan hanya menguasai bahasa Arab. Saat proses ambil alih oleh kebudayaan barat itu, Majapahit telah runtuh. Diganti kerajaan-kerajaan kecil. Demak berkuasa waktu itu. Walisongo mulai menebarkan dakwah di tanah Jawa. Saat itu sekitar abad ke-15 Masehi (1400an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku yang menarik. Apalagi yang menulis buku ini adalah seorang wanita yang beragama nasrani. Maria Rosa Menocal namanya, seorang Profesor Bahasa Spanyol dan Portugis di Yale University. Yang menarik lagi adalah pernyataan Menocal di akhir bukunya ini. Ia menyatakan hampir tak percaya saat ia menuliskan bagian buku yang menggambarkan Islam yang begitu universal dan ramah, terjadi sebuah kejadian yang hampir membuat dunia barat begitu membenci Islam, yaitu kejadian 11 September 2001. Ia mengatakan, "ternyata ini adalah wajah lain Islam" (mungkin ia menyatakan dengan nada antara percaya dan tak percaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat kurekomendasikan buat teman-teman yang tertarik mempelajari Islam. Sekedar memperkaya wacana tentang wajah Islam yang pernah ditunjukkan di masa lalu. Tapi siapa pun yang membaca, ia akan bisa menarik hikmahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Januar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepotong Surga di Andalusia, kisah peradaban Muslim, Yahudi, Kristen Spanyol Pertengahan", Mizan, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115983341807044107?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115983341807044107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115983341807044107&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115983341807044107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115983341807044107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/10/surga-di-andalusia-sebuah-catatan-di.html' title='Surga di Andalusia (sebuah catatan di bulan Ramadhan)'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115958519683688362</id><published>2006-09-29T19:57:00.000-07:00</published><updated>2006-09-29T19:59:56.853-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Catatan dari Jepang</title><content type='html'>Rabu, 13 September 2006  06:18:38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Perjalanan dari Jepang&lt;br /&gt;(dikutip dari e-mail salah seorang kawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Yuli Setyo Indartono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor pemerintahan dan pelayanan publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.&lt;br /&gt;Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena  bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada  gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan hidup dan transportasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas,  sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan dan rumah sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi  nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115958519683688362?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115958519683688362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115958519683688362&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115958519683688362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115958519683688362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/09/sebuah-catatan-dari-jepang.html' title='Sebuah Catatan dari Jepang'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115922389555326225</id><published>2006-09-25T15:36:00.000-07:00</published><updated>2006-09-25T15:38:15.563-07:00</updated><title type='text'>demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi..</title><content type='html'>Artikel yang ditulis oleh rekan saya Ani di blog miliknya yang bertitel &lt;a href="http://anichristina.blogs.friendster.com/ani_christina/"&gt;"Ani Christina"&lt;/a&gt; tentang nutrisi Saputra merupakan salah satu bukti,betapa Allah telah menciptakan dunia ini begitu detil. Dan betapa bodohnya kita, manusia, apabila kita tak mau untuk memahami kalam-kalam Allah yang tersebar di dunia ini. Tak hanya di luar diri kita, namun apabila kita mau mencoba "membaca" maka sesungguhnya kalam Allah itu pun ada pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mari teman, kita berusaha mencari hikmah dan ilmu-Nya yang terserak di muka bumi. Jangan sia-siakan waktu dan akal kita. Karena sesungguhnya manusia berada pada keadaan merugi, kecuali orang-orang yang mau menggunakan waktu dan akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencari hikmahnya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115922389555326225?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115922389555326225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115922389555326225&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115922389555326225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115922389555326225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/09/demi-waktu-sesungguhnya-manusia-itu.html' title='demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi..'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115898143544995862</id><published>2006-09-22T20:17:00.000-07:00</published><updated>2006-09-22T20:17:15.450-07:00</updated><title type='text'>sekedar berbagi cerita: mengetahui tapi tidak melakukan sama dengan tidak mengetahui</title><content type='html'>&lt;a href="http://anichristina.blogs.friendster.com/ani_christina/2006/09/yang_pertama.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115898143544995862?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115898143544995862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115898143544995862&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115898143544995862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115898143544995862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/09/sekedar-berbagi-cerita-mengetahui-tapi.html' title='sekedar berbagi cerita: mengetahui tapi tidak melakukan sama dengan tidak mengetahui'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115898117287439741</id><published>2006-09-22T19:53:00.000-07:00</published><updated>2006-09-22T20:12:52.883-07:00</updated><title type='text'>Resolusi Ramadhan 1427</title><content type='html'>Ah tak terasa, Ramadhan kembali tiba &lt;br /&gt;Alhamdulillah, Allah, Tuhan manusia masih memberikan kesempatan kepada diri ini untuk bertemu dengan bulan segala bulan &lt;br /&gt;Betapa senangnya hambamu ini ya Tuhan, hati dan jiwa yang berlumuran lumpur masih Engkau beri kesempatan untuk membersihkannya. Di bulan ini Tuhan, bulan yang Kau peruntukkan untuk umatMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,Tuhan Yang Maha Perkasa..&lt;br /&gt;Ijinkanlah hambamu ini untuk perbaiki niatnya..&lt;br /&gt;Niat untuk memahami kekuasaanmu yang Maha Tak Terbatas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan,&lt;br /&gt;Bimbing hambaMu menemukan hidayah yang telah engkau janjikan&lt;br /&gt;Bimbing aku dalam membaca segala ayat-ayatMu yang tersurat dan yang tersirat di dunia&lt;br /&gt;Agar diri ini semakin paham akan ketetapan-ketetapanMu Tuhan..&lt;br /&gt;Agar diri ini mampu senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Kau limpahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ya Malik..&lt;br /&gt;Bantu diriku semakin menemukan diriMu &lt;br /&gt;dalam setiap nafasku&lt;br /&gt;dalam setiap pikiranku&lt;br /&gt;dalam setiap langkahku&lt;br /&gt;dalam hati, jiwa dan tubuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan....&lt;br /&gt;Ku sambut Ramadhanmu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115898117287439741?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115898117287439741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115898117287439741&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115898117287439741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115898117287439741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/09/resolusi-ramadhan-1427.html' title='Resolusi Ramadhan 1427'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115891579729112900</id><published>2006-09-22T01:58:00.001-07:00</published><updated>2006-09-25T15:50:01.526-07:00</updated><title type='text'>resensi buku sarlito</title><content type='html'>JUDUL BUKU : PSIKOLOGI PRASANGKA ORANG INDONESIA, Kumpulan Studi Empirik Prasangka Dalam Berbagai Aspek Kehidupan Orang Indonesia&lt;br /&gt;PENGARANG : Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono&lt;br /&gt;PENERBIT :  PT RajaGrafindo Perkasa&lt;br /&gt;TAHUN TERBIT : 2006 (Terbitan pertama)&lt;br /&gt;JUMLAH HAL : 206 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat kerusuhan bernuansa etnis sekitar tahun 1999 dan 2000 di daerah Sambas dan Sampit? Saat itu, ribuan orang etnis Madura melakukan eksodus besar-besaran ke tanah Madura akibat terjadinya kerusuhan antara orang Madura, Dayak dan Melayu.&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah terlibat dalam sebuah tim yang menangani trauma pasca konflik bagi anak-anak usia sekolah. Tim kami tersebut diturunkan di beberapa kantong pengungsian di pulau Madura. Saya sempat ikut merasakan betapa rasa sedih, marah bercampur dengan trauma yang mendalam pada diri para pengungsi. Bukan hanya orang dewasa, namun juga anak-anak yang justru paling banyak terkena dampak trauma yang mendalam. Mereka menganggap bahwa suku Dayak dan Melayu lah yang paling bertanggung jawab atas penderitaan yang mereka alami saat itu. Dari sorot mata dan cara mereka bercerita, terasa sekali sebuah kebencian yang mendalam. Padahal ketika saya bersama teman-teman turun ke kantong-kantong pengungsian di Madura, kejadian itu sudah berlalu 3 tahun!&lt;br /&gt;Kita lantas bertanya, apakah kebencian itu tidak akan pernah hilang? Apakah rasa jijik dan marah ketika mendengar (saja) kata “Dayak” dan “Melayu” akan terus tertanam di hati para pengungsi tersebut? Tetapkah prasangka itu ada ketika mereka kelak bertemu dengan seseorang yang berasal dari suku lawan mereka, yang saat terjadi konflik justru tidak terlibat?&lt;br /&gt;Prof. Sarlito, dalam bukunya ini menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana prasangka itu terjadi dalam konteks Indonesia. Banyak ragam teori psikologi yang bisa dipakai dalam menjelaskan fenomena-fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Yang relevan adalah teori tentang prejudice. Namun kelemahannya teori-teori yang ada dibangun dalam konteks barat. Padahal konteks barat dengan konteks sosial yang terjadi di Indonesia berbeda sekali. Contohnya, jika sosok yang ambisius di Indonesia dianggap sebagai sosok yang sok tahu, mau menang sendiri, tak bisa menempatkan diri, maka di Barat seorang pribadi yang ambisius justru berkonotasi positif.&lt;br /&gt;Lewat beberapa penelitian kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan oleh mahasiswanya dan yang dilakukannya sendiri, Guru Besar Psikologi UI yang  juga pernah menjadi guru besar tamu di Universitas Nijmegen Belanda dan Universitas Cornell di AS serta Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini mencoba mengupas beberapa isu terkait dengan fenomena prasangka itu.&lt;br /&gt;Tentang prasangka etnis antara orang Dayak, Melayu dan Madura saat terjadi konflik di Sambas dan Sampit misalnya. Dalam buku itu disebutkan mengenai suatu fakta yang mengejutkan bahwa jika ditinjau dari nilai motivasi pada dasarnya ketiga etnik tersebut mempunyai skala prioritas nilai yang sama, yaitu konformitas kelompok, rasa aman, baik hati dan universalisme. Sehingga menurut Sarlito hal tersebut kurang menggembirakan untuk penyelesaian jangka pendek konflik etnik di Kalbar, karena akar permasalahan ternyata terletak pada nilai-nilai dasar motivasi mereka. Bukan pada perbedaan, tetapi justru karena persamaan nilai. (Tulisan-tulisan/Penelitian Sarlito mengenai konflik beberapa etnis di Indonesia bisa anda intip di &lt;a href="http://www.sarlito.net.ms/"&gt;website pribadi Sarlito&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Hal lain yang cukup menarik dalam pembahasan buku ini adalah mengenai akar radikalisme agama. Sebuah isu yang dianggap sebagai penyebab munculnya beberapa musibah yang menjadi isu internasional, di antaranya tindakan teror bom Bali I dan II, konflik antar umat muslim dan kristen di Ambon. Hal ini menarik, karena jika kita ingat Prof. Sarlito pernah diminta Mabes Polri untuk memeriksa kesehatan mental Abu Fidha sekitar tahun 2004. Abu Fidha alias Saefuddin pernah dituduh menyembunyikan Nurdin M. Top dan Dr. Azahari.&lt;br /&gt;Selain itu, persoalan mengenai prasangka politik, prasangka gender dan prasangka mengenai seks yang bagi masyarakat menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas, diulas juga di dalam buku ini.&lt;br /&gt;Sebagai buku yang dimaksudkan untuk memperkaya khazanah teori psikologi yang sesuai dengan konteks Indonesia, maka buku ini layak dibaca oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Psikologi untuk memperkaya wacana di ranah psikologi sosial. Bagi pemerintah maupun para tokoh pemuka agama dan pemuka masyarakat, walaupun buku ini masih belum memberikan solusi konkrit mengenai masalah saling ketidakpercayaan di antara komponen bangsa, paling tidak buku ini akan memberikan suatu sudut pandang baru dalam membuat kebijakan-kebijakan yang menjauhkan prasangka yang tidak objektif di antara komponen bangsa ini. Sehingga semboyan “Bhineka Tunggal Ika” tidak hanya sekedar menjadi semboyan belaka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115891579729112900?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115891579729112900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115891579729112900&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115891579729112900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115891579729112900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/09/resensi-buku-sarlito_22.html' title='resensi buku sarlito'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115663879141968392</id><published>2006-08-26T16:44:00.000-07:00</published><updated>2006-09-22T19:29:51.420-07:00</updated><title type='text'>mengetahui tapi tidak melakukan sama dengan tidak mengetahui</title><content type='html'>Cukup kah?&lt;br /&gt;Hanya dengan membaca buku, lantas kita mengaku bahwa kita banyak tahu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup kah?&lt;br /&gt;Hanya dengan mendengar dari orang lain, apakah itu gurumu, kyaimu, atasanmu, bapak-ibumu, orang-orang yang engkau kagumi.. lantas engkau mengklaim bahwa engkau telah memahami semua itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah kita?&lt;br /&gt;Bahwa ternyata seringkali kebanyakan dari kita mengaku tahu..&lt;br /&gt;                                                                                                              mengaku paham..&lt;br /&gt;                                                                                                              mengaku menguasai..&lt;br /&gt;padahal kita belum melakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis..&lt;br /&gt;Apalagi jika engkau telah diakui sebagai seorang pemimpin!&lt;br /&gt;Kewenangan moral apa lagi yang engkau miliki..&lt;br /&gt;Jika antara apa yang ada dalam pikiran..&lt;br /&gt;Apa yang keluar dari perkataan..&lt;br /&gt;Ternyata tidak pernah engkau lakukan.. alias tak sejalan dengan kenyataan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika semua yang engkau tahu,&lt;br /&gt;tak pernah mau kau lakukan..&lt;br /&gt;tak pernah mau kau aplikasikan..&lt;br /&gt;sesungguhnya sama saja engkau masih belum mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is only in the &lt;i&gt;doing&lt;/i&gt;, the &lt;i&gt;applying&lt;/i&gt;, that knowledge and understanding are internalized."&lt;br /&gt;-Stephen Covey-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januar,&lt;br /&gt;e-mail : januardwi@gmail.com, januardwi@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115663879141968392?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115663879141968392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115663879141968392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115663879141968392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115663879141968392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/08/mengetahui-tapi-tidak-melakukan-sama.html' title='mengetahui tapi tidak melakukan sama dengan tidak mengetahui'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115578788517793563</id><published>2006-08-16T20:55:00.000-07:00</published><updated>2006-09-25T15:43:59.216-07:00</updated><title type='text'>Upacara Tujuh Belasan</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;Fiuh...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;Upacara tujuh belasan di kantor tadi sukses! Alhamdulillah, aku berhasil melaksanakan tugas sebagai pengibar bendera. Jadi gak ada insiden bendera terbalik, kesandung pas mundur, gak kompak pas jalan dsb he he..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;Tapi, di balik kesuksesan upacara bendera tadi pagi, ada sedikit cerita yg terselip. Begini ceritanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;Tim pengibar yg ditunjuk ini, sudah bolak-balik ganti personel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 102);"&gt;&lt;li&gt;awalnya aku, mas zaenal, mbak endah..&lt;/li&gt;&lt;li&gt;lantas diganti lagi, mas zaenal, mbak endah, pak sutadji. aku diminta jadi komandan kompi saja&lt;/li&gt;&lt;li&gt;berubah posisi lagi, aku diminta jadi perwira upacara. bagian nyusul inspektur itu lho..&lt;/li&gt;&lt;li&gt;tapi lantaran pak sutadji sakit 2 hari menjelang pelaksanaan, padahal butuh latihan intens, akhirnya aku diminta menggantikan pak sutadji..&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bolak-balik latihan, ada kekurangan. langkah kita setelah mengibarkan bendera ternyata GAK KOMPAK sama sekali&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1 hari menjelang pelaksanaan, pak sutadji datang. akhirnya ada ide baru. coba kalau petugas pengibar bendera semuanya laki-laki. kemudian try out, tyt hasilnya OK. kesalahan pada tim sebelumnya tidak terjadi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;Nah, di sini lah agak kurang enak.. Mbak Endah buru-buru pulang sebelum latihan selesai. Mungkin kecewa.. Atau bisa jadi beliau menganggap kesuksesan tim yg lebih utama, jadi beliau ingin mempersilakan kami sebagai tim pengibar untuk keesokan harinya.. Yah, mungkin beliau kecewa.. Aku kira itu manusiawi sekali. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;17 Agustus 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;Januar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 102);font-family:arial;" &gt;e-mail : januardwi@gmail.com ; januardwi@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115578788517793563?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115578788517793563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115578788517793563&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115578788517793563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115578788517793563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/08/upacara-tujuh-belasan.html' title='Upacara Tujuh Belasan'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-32595100.post-115534997383989872</id><published>2006-08-11T19:15:00.000-07:00</published><updated>2006-08-11T19:32:53.850-07:00</updated><title type='text'>sekedar berbagi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;ini blog pertamaku di blogger.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;kenapa aku bikin blog?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;, aku butuh media agar tulisanku bisa dibaca orang lain, at least teman2 sendiri. dengan begitu keyakinan, visi, gairah, emosi yang ku miliki dan rasakan juga bisa mereka rasakan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;&lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt;, media mencerminkan generasi. blog memungkinkanku untuk berhubungan dengan all cyber generation. seperti yang kita semua tahu, bahwa tiap generasi punya pandangan dan gairahnya sendiri tentang hidup.. minimal, aku bisa mem-benchmark visiku dengan mereka..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#333399;"&gt;&lt;strong&gt;ketiga&lt;/strong&gt;, lebih dari itu semua, aku ingin dapat feedback dari orang-orang yang membaca blog ini. kenapa? karena dengan feedback dari orang lain itu lah, manusia akan semakin matang dan berkembang..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;so, terima kasih telah membaca posting ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;anggaplah ini adalah sebuah introduksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;Regards,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;Januar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333399;"&gt;e-mail : &lt;a href="mailto:januardwi@gmail.com"&gt;januardwi@gmail.com&lt;/a&gt;, &lt;a href="mailto:januardwi@yahoo.co.id"&gt;januardwi@yahoo.co.id&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/32595100-115534997383989872?l=januardwi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://januardwi.blogspot.com/feeds/115534997383989872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=32595100&amp;postID=115534997383989872&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115534997383989872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/32595100/posts/default/115534997383989872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://januardwi.blogspot.com/2006/08/sekedar-berbagi.html' title='sekedar berbagi'/><author><name>j@guar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10517190895955304064</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
